Tagged: Mengenal Kota Cengkeh Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Chandra Alam 4:04 pm on 28 March 2010 Permalink
    Tags: , Mengenal Kota Cengkeh, ,   

    POTENSI DAERAH SULAWESI TENGAH
    1. 1. Infrastruktur
    v  Perhuhubungan
    Jaringan Jalan
    • Status jalan
    1. Nasional             :  1.285,34 km
    2. Propinsi              :  1.535,03 km
    Jumlah                 :  2.820,37 km
    • Kondisi Jalan
    1. Nasional
    • Diaspal           :  1163,34  km
    • Kerikil                        :  110,00  km
    • Tanah              :  12,00  km
    1. Propinsi
    • Diaspal           :  1327,03  km
    • Kerikil                        :  63,00  km
    • Tanah              :  145,00  km
    Jembatan
    • Panjang                    :  0,37  km
    • Jumlah                     :  9 buah
    Terminal
    • Kelas B                     :  1 unit
    • Kelas C                    :  2 unit
    Pelabuhan laut
    • Kota Palu                          :  Pelabuhan Pantoloan dan Pelabuhan Veri
    Taipa
    • Kabupaten Donggala      :  Pelabuhan Moutong, Donggala, Wani dan
    Parigi
    • Kabupaten Poso              :  Pelabuhan    Poso ,    Wakai ,    Ampana ,
    Bungku,  Kolonedale   dan  Wosu
    • Kabupaten Banggai         :  Pelabuhan Luwuk, Pagimana, dan Bunta
    • Kebupaten Banggai
    Kepulauan                                    :  Pelabuhan Banggai dan   Salakan
    • Kabupaten Buol               :  Pelabuhan Palele dan leok
    • Kabupaten Tolitoli          :  Pelabuhan Tolitoli dan Dede
    Pelabuhan Udara
    • Domestik
      • Bandara Udara Mutiara Palu
      • Perintis
        • Bandara Udara Bubung Luwuk
        • Bandara Udara Kasiguncu Poso
        • Bandara Udara Lalos Tolitoli
        • Bandara Udara Pogogul Buol
    v  Irigasi                       : 201 di seluruh Sulawesi Tengah
    Irigasi Gumbasa Dolo
    Irigasi Roraya I,
    Irigasi Amolto
    Irigasi Roraya II
    irigasi Karaopa Morowali
    Irigasi Bella-Kumpi  Banggai
    v  Pos danTelekomunikasi
    Kantor Pos                                             : 7 unit
    Jasa titipan status cabang/agen         : 21 unit
    Telekomunikasi
    • Kapasitas sentral                              : 19 SST
    • Kapasitas Terpasang                       : 46,359 SST
    • Kapasitas Terpakai                          : 40,622 SST
    • Pelanggan                                          : 39,884 SST
    • Telepon Umum                                : 156 SST
    • Wartel                                                            : 1,161 SST
    Penyedia jaringan Internet      (ISP)    : 8 buah
    Pengguna Band Frekuensi
    • Amatir radio                                     : 312 stasiun
    • KRAP (RAPI)                                                : 157 stasiun
    v  Perbankan
    1 Kantor Cabang  Bank Indonesia
    1 Kantor Pusat  Bank Pembangunan daerah
    2 Kantor Cabang Bank Pembangunan  Daerah
    2 Kantor Cabang Pembantu Bank Pembangunan Daerah
    8 Kantor Cabang Bank Umum Swasta Nasional
    1 Kantor Cabang Pembantu Bank Umum Swasta Nasional
    3 Kantor Pusat Bank Perkreditan Rakyat
    13 Kantor Cabang Bank Umum Pemerintah
    5 Kantor Cabang Pembantu Bank Umum Pemerintah
    1 Kantor Kas Tabungan Negara
    v  Energi
    Sumber Energi Listrik
    • PLTU
      • Jumlah     : 1 unit
      • Kapasitas            : 30000 Kw
      • PLTD
        • Jumlah     : 22 unit
        • Kapasitas            : 56,200 Kw
    Jangkauan Pelayanan Energi Listrik
    • Persentase Listrik perkotaan          : 100 %
    Sarana Pelayanan bahan Bakar
    • SPBU                                      : 12 Buah
    • UPPDN Pertamina               : 1 buah
    1. 2. Potensi Ekonomi
    v  Potensi Energi
    Panas Bumi
    Tenaga Air Mini & Mikro
    Hilir Migas
    v  Potensi Laut dan Air Tawar
    Potensi lestari perairan laut Sulawesi Tengah diperkirakan sebesar 1.593.796 ton per tahun dengan rincian :
    –            Zona I (Selat Makassar/Laut Sulawesi) sebesar 929.700 ton
    –            Zona II (Teluk Tomini) sebesar 596.620 ton
    –            Zona III (Teluk Tolo) sebesar 68.456 ton
    v  Potensi Sumber Daya Mineral
    Di Wilayah Provinsi Sulawesi Tengah terdapat potensi mineral yang masih memerlukan penelitian terlebih lanjut mengenai jumlah depositnya yang tersedia antara lain :
    Batubara
    Lokasi bahan galian di Desa Ensa. Tomata, Kecamatan Mori Atas, Kabupaten Morowali dengan tebal lapisan 0,3 – 1,0 meter, jenis gambut (peat), lignit dan brown coal; desa sekitar Toaya dan Tamarenja, Kecamatan Sidue, Kabupaten Donggala dengan lokasi penyebaran sekitar 15 Ha terdapat pada formasi Malosa, berselang seling dengan lempung dan batu pasir halus sampai kasar dengan ketebalan 0,15 – 3,0 meter. Dari hasil analisa “grab sampling” menunjukkan kadar air 20,79 persen, abu 9,68 persen, fix carbon 29,55 persen, belerang 1,26 persen dengan nilai kalori 4130 Kkal.
    Nikel
    Terdapat di Kecamatan Petasi, Bungku Tengah, Bungku Selatan Kabupaten Morowali dengan Luas Wilayah tambang 36.635 Ha.
    Galena
    Bermanfaat untuk pembungkus kabel, solder, amunisi, pembuatan lempeng Pb, baterai dan bahan tube. Terdapat di sungai Lewara Hulu, Kecamatan Marawola, Kabupaten Donggala
    Emas
    Terdapat di Kecamatan Palu Selatan dan Palu Utara, Kota Palu dengan luas wilayah tambang 561.050 Ha; Kecamatan Parigi Moutong, Kabupaten Parigi Moutong (46.400 Ha); Kecamatan Paleleh, Bunobogu, Dondo, Kabupaten Buol (746.400 Ha); Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso (19.180 Ha) dan Kecamatan Biromaru Kabupaten Donggala (288.700 Ha).
    Molibdenum
    Terdapat di desa Malala Kecamatan Dondo, Kabupaten Tolitoli
    Chromit
    Terdapat di Kecamatan Mori Atas (229 Ha), Kecamatan Bungku Barat dan Bungku Tengah, Kabupaten Morowali (1.003 Ha), Kecamatan Momunu  Kabupaten Buol, Kecamatan Bulagi Kabupaten Banggai Kepulauan
    Tembaga
    Terdapat di Moutong Kabupaten Parigi Moutong dan Sungai Bukal Kabupaten Buol
    Belerang
    Terdapat di Kecamatan Una-Una Kabupaten Tojo Una-Una
    Granit
    Terdapat di Kabupaten Tolitoli, Kabupaten Donggala, Kabupaten Banggai Kepulauan dan Kabupaten Tolitoli
    Marmer
    Terdapat di Kabupaten Poso dan Kabupaten Morowali
    Pasir dan Batu
    Terdapat hampir di semua sungai dalam jumlah yang cukup besar
    Diorit dan Andesit
    Terdapat di Kecamatan Banawa dan Tawaili Kabupaten Donggala dan Kabupaten Buol
    Pasir Felspar-Kuarsa
    Terdapat di Kabupaten Donggala dan Kabupaten Tolitoli
    Gibsum
    Terdapat di Mamboro Kecamatan Palu Utara Kota Palu dan Kendek Kecamatan Banggai
    1. 3. Investasi
    v  Investasi Sektor pertambangan dan energi
    Propinsi Sulawesi Tengah memiliki sumberdaya bahan galian dan mineral, antara lain mineral logam industri dan bahan bangunan serta bahan bakar fosil yaitu batu bara dan minyak. Bahan galian golongan A (strategis) antara lain minyak dan gas bumi, batu bara, dan nikel. Bahan galian vital (golongan B) antara lain emas, molibdenum, chronit, tembaga dan belerang. Bahan galian golongan C (bukan strategis dan Vital) melipiti sirtukil, granit, marmer, pasir kuarsa, pasir besi, lempung dan sebagainya.
    Potensi pertambangan bahan galian strategis (Golongan A) barupa minyak dan gas bumi terletak di Kabupaten Banggai dan Morowali, Gas Alam berlokasi di Kabupaten Banggai pada tahap eksplorasi, Batubara berlokasi di Kabupaten Morowali dan Kabupaten Banggai Kepulauan pada tahap eksploitasi, Nikel berlokasi di Kabupaten Morowali, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Tojo Unauna pada tahap eksplorasi sedangkan yang masih bersifat indikasi yaitu Galena (Timah Hitam) berlokasi di kabupaten Donggala, Kabupaten Tolitoli dan Kabupaten Poso. Sampai saat ini masih dilakukan eksplorasi antara lain berlokasi di Minahaki, Serono I Matindok oleh PT. Union Texas, Serono II oleh PT. Expan & Pertamina, Sinorang I dan Dongin oleh Pertamina, dan lepas pantai Tiaka desa rata kecamatan Toili oleh PT. Expan dan Pertamina, di lapangan Tiaka juga terdapat cadangan minyak bumi sebesar 110 juta barel. Di Sinorang Kecamatan Batui terdapat cadangan gas 4 trilyun kubik (TCF) yang dapat dimanfaatkan untuk industri petro kimia, elpiji, bahan bakar pabrik, dan pembangkit listrik dan gas. Sementara jenis bahan galian golongan C yang telah mempunyai prospek pasar dilihat dari jumlah, potensi, dan kualitas adalah pasir, batu dan kerikil (sirtukil). Penggunaannya semakin besar karena kebutuhan terus meningkat sejalan dengan perkembangan pembangunan. Khusus menyangkut material agregat ini selain memenuhi kebutuhan lokal yang semakin berkembang seiring dengan makin baiknya ekonomi masyarakat, setiap tahunnya telah diantar pulaukan utamanya ke kalimantan. Dengan demikian prospek ini akan mendorong berkembangnya industri pasir batu kerikil.
    v  Sirtukil, emas, batu pasir dan kuarsa
    v  Investasi sektor pertanian (sub sektor perkebunan)
    Potensi lahan pertanian yang telah dimanfaatkan hingga tahun 2005 mencapai 218.832 Ha (luas panen) .
    Komoditi perkebunan yang diusahakan di Sulawesi Tengah smpai tahun 2004 terdiri atas 16 komoditi dengan luas areal mencapai 479.588 Ha dengan produksi 727.060 ton. Dari total luas tersebut 86,81 % dikelola dalam bentuk perkebunan rakyat dan 13,19 % oleh perkebunan besar swasta.
    v  Lahan pertanian bawang goreng
    v  Perkebunan kakao
    v  Investasi sektor peternakan dan kelautan
    Jenis-jenis ternak yang diusahakan di Sulawesi Tengah antara lain: Sapi, Kerbau, Kuda, Kambing Domba dan Babi, sedang unggas ialah Ayam Ras, Ayam Kampung dan Itik. Jenis-jenis ternak diatas diklasifikasikan sebagai berikut:
    1. Ternak besar, meliputi Sapi, Kerbau serta Kuda
    2. Ternak kecil, meliputi Kambing, Domba serta Babi, dan
    3. Ternak Unggas, meliputi Ayam Ras, Ayam Kampung dan ltik
    v  Budidaya ayam petelur
    v  Property
    v  Perumahan
    Berdasarkan hasil susenas tahun 2006 di Sulawesi Tengah terdapat sebanyak 64,94 % rumah tinggal beratapkan seng. Sementara jenis lantai bukan tanah mempunyai persentase yang lebih tinggi yaitu 87,45 %. Jika silihat dari luas lantai, maka rumah tinggal dengan luas lantai di atas 150 m2 ternyata terbesar beada di kota Palu yaitu 7,59 %, tetapi di kabupaten Tojo Una-Una hanya 1,41 % saja.
    1. Industri
    v  Kerajinan Rotan
    v  Kerajinan Kayu Hitam
    v  Bawang Goreng
    v  Meubelair
    1. A. Kondisi Ekonomi
      1. a. Potensi Unggulan Daerah
    1)        Potensi Sumber Daya Alam
    Potensi Lahan
    1. Kawasan Hutan         4.394.932 Ha.
    – Hutan Lindung      1 .489.923 Ha.
    –  Hutan Suaka & Wisata         500.589 Ha.
    –  Hutan Produksi Tetap      1.476.316 Ha.
    –  Hutan Konversi          251.856 Ha.
    1. Non Kawasan Hutan            1.192.253 Ha.
      1. Untuk Pertanian    672.759 Ha.
    – Sawah         108.067 Ha.
    – Perkebunan           200.074 Ha.
    – Tegalan, Peternakan, Pertambangan dll          519.548 Ha.
    1. Untuk Pemukiman             519.548 Ha.
    2) Potensi Sumber Daya Manusia
    Sampai dengan saat ini Propinsi Sulawesi Tengah tergolong propinsi yang masih jarang pendudukunya, meskipun pertumbuhan penduduknya cukup tinggi.
    Berdasarkan sensus penduduk tahun 1961 jumlah penduduk daerah ini baru 693.157 jiwa, tahun 1971 mejadi 913.662 jiwa, tahun 1980 menjadi 1.284.428 jiwa, tahun 1990 menjadi 1.711.327 jiwa, tahun 2000 menjadi 2.079.201 jiwa dan berdasarkan P4B jumlah penduduk sulawesi tengah mencapai 2.242.916 jiwa pada tahun 2003 serta tahun 2005 menjadi 2.284.659 jiwa.
    3) Potensi Sektor Pertanian dan Perkebunan
    Potensi lahan pertanian yang telah dimanfaatkan hingga tahun 2005 mencapai 218.832 Ha (luas panen) .
    Komoditi perkebunan yang diusahakan di Sulawesi Tengah smpai tahun 2004 terdiri atas 16 komoditi dengan luas areal mencapai 479.588 Ha dengan produksi 727.060 ton. Dari total luas tersebut 86,81 % dikelola dalam bentuk perkebunan rakyat dan 13,19 % oleh perkebunan besar swasta.
    4) Potensi Sosial Budaya
    Suku bangsa Kaili merupakan penduduk mayoritas di Propinsi Sulawesi Tengah, disamping suku-suku lainnya seperti Dampelas, Kulawi dan Pamona. Selain itu secara keseluruhan masih ada suku-suku lainnya yang tidak begitu besar seperti Balaesang, Tomini, Lore, Mori, Bungku, Buol Tolitoli.
    Secara tradisional masyarakat Sulawesi Tengah memiliki seperangkat pakaian adat yang dibuat dari kulit kayu ivo
    Komoditi unggulan
    Sektor Perkebunan yaitu biji kakao yang menjadi andalan Suawesi Tengah hanya diperdagangkan dalam bentuk bahan mentah (raw material export) dengan perolehan nilai tambah yang tidak optimal. Untuk mendapatkan hasil yang berwujud barang setengah jadi atau barang jadi dengan nilai kompetitf yang sangat tinggi untuk peran global dan domestic perlu diolah melalui sentuhan teknologi maju.
    Perairan Sulawesi Tengah yang hampir tiga kali luas daratan mempunyai potensi sumber daya perairan sekitar ± 214.000 ton per tahun dengan pengelolaan lestari sekitar 92.298,20 ton per tahun yang terdapat pada 3 zona yaitu Zona I = Selat Makassar, Zona II = Teluk Tomini dan Zona III = Teluk Tolo dengan berbagai Janis ikan pelagis kecil, ikan pelagis besar, ikan demersal, ikan lain termasuk crustasea udang laut, cumi-cumi, teripang, rumput laut, kerang mutiara dan jenis biota laut lainnya.
    TERIPANG
    Potensi teripang di perairan Sulawesi Tengah berlokasi di :
    –          Perairan Kab Banggai Kepulauan
    –          Perairan Kab. Tojo Una-una
    –          Perairan Kab Toli-toli
    –          Perairan Kab Poso
    –          Perairan Kab Donggala
    NAPOLEON
    Ikan Napoleon merupakan salah satu jenis ikan yang banyak ditemukan diperairan Sualwesi Tengah seperti :
    –          Perairan Kab Banggai Kepulauan
    –          Perairan Kab Tojo Una-una
    –          Perairan Kab Toli-toli
    –          Perairan Kab Poso
    –          Perairan Kab Donggala
    KEPITING KENARI
    Merupakan salah satu Biota yang dilindungi sesuai PP No. 7 Thn 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Yang banyak terdapat di Wilayah Sulawesi Tengah seperti :
    –          Kab Banggai Kepulauan
    –          Kab Tojo Una-una
    –          Perairan Kab Tol-toli
    –          Perairan Kab Donggala
    Sektor peternakan yaitu pengembangan komoditi sumber daya peternakan mempunyai prospek investasi yang sangat menarik untuk penggemukan sapi potong. Disamping itu pengembangan jenis ternak lainnya seperti Kambing, Domba Ekor Gemuk, Ayam Buras dan Itik.
    Sektor pertambangan jenis bahan galian batu granit dan marmer memiliki potensi yang cukup menjanjikan baik dari segi luas kawasan dan cadangannya maupun dari segi kualitas dan pemasarannya.
    –          Granit Donggala tersingkap di Pegunungan Gawalise dan Desa Pesaku, 23 Km dari Kota Palu.
    –          Marmer dan Granit Parigi tersingkap di Pegunungan (Perbukitan dan Sungai Morontale Kecamatan Ampibabo, Perbukitan Tolae Kecamatan Sausu, Sungai Parigimpu Kecamatan Parigi, Sungai, Sungai Ogomojalo Lambori Kecamatan Tomini.
    –          Granit Toli-toli, tersingkap di Kecamatan Galang dan Kecamatan Dondo masing-masing 23Km, 65 Km dari Toli-toli dan 430Km dari Kota Palu.
    –          Marmer Poso tersingkap di Pegunungan Pamona Utara 56Km dari Kota Poso dan 276Km dari Kota Palu
    –          Marmer Morowali tersingkap di Pegunungan Korowu Kecamatan Beteleme 200Km dari Kota Poso dan 456Km dari Kota Palu.
    –          Granit Bangkep, tersingkap di desa Lambako 9Km dari Kota Banggai dan di Desa Tolisetubono dan Paisumosoni.
    Sektor Pariwisata, dengan posisi sangat strategis diapit oleh 2 pintu masuk daerah tujuan wisata yaitu Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara, didukung oleh kondisi alam dan budaya yang relative masih sangat alami, daerah Sulawesi Tengah memberikan peluang sangat besar di Sektor Pariwisata.
    1. Wisata Alam
    –          Taman Nasional Lore Lindu (Kab Donggala dan Kab Poso) 230.000 Ha mengandung potensi flora dan fauna tropis khas Sulawesi dan Patung Megalith
    –          Cagar Alam Morowali (Kab. Morowali) 200.000 Ha memiliki sungai jernih, flora dan fauna unik serta dihuni Suku Wana (Masyarakat Tradisonal),
    –          Pemandian alam Kemalingon dan air terjun Pinamula di Kab. Buol.
    –          Taman Laut Pulau Kecil dan Pantai Pasir Putih di Kep. Togean (Teluk Tomini), Tanjung Karang (Teluk Palu), Pulau Labobo Bangkurung (Kab. Banggai Kepulauan)
    –          Danau Poso di Tentena Kab. Poso
    –          Pulau Lutungan Toli-toli, 120Km sebelah Selatan Toli-toli
    –          Pantai Lambungan Pauno di Kec. Banggai Kab Banggai Kepulauan
    –          Panorama Salodik Luwuk, 27Km sebelah Utara Kota Luwuk
    –          Teluk Tomori, Batu Payung terletak di perairan Teluk Tomori Kab Morowali dan Kab Parigi Moutong.
    1. Wisata Agro
    –          Perkebunan, Kolam dan Tambak ikan, antara lain Lembah Napu (Kab. Donggala), Bungku Kolonedale, Beteleme (Kab Morowali), Buol (Kab. Buol) Maleali
    1. Wisata Budaya dan Minat Khusus
    –          Arung Jeram sungai Lariang Kab. Donggala
    –          Peniggalan Purbakala (Kab. Poso)
    –          Tari Paulu Cinde, Pamonte, Nabai Keluku di Kota Palu
    Iklan
     
  • Chandra Alam 6:27 pm on 5 March 2010 Permalink
    Tags: , Mengenal Kota Cengkeh   

    Masjid Al-Ikhlas Tanjung Batu.

    Kabupaten Tolitoli adalah kabupaten di Sulawesi tengah yang mayoritas penduduknya ber-agama Islam ( + 90%).Sehingga kota cengkeh ini juga terkenal dengan kehidupan  yang penuh dengan  Religyusnya.
    Banyak sekali Masjid-Masjid berdiri dengan megahnya di kota cengkeh ini.Dan salah satu masjid yang kalau buat kami ,bagus  untuk di kunjungi.Masjid itu adalah Masjid Al-Ikhlas.
    Masjid ini menurut  adalah mesjid yang kecil Mungil.Ukurannya sangat mini dan unik sekali,sekaligus indah untuk di pandang mata.Masjid ini berada di daerah Tanjung Batu.
    Apabila kita menuju Daerah pelabuhan Fery tolitoli maka sebelum masuk di pintu gerbang pelabuhan fery tersebut , masjid nan kecil mungil ini telah menghadang  anda.
    Lihat gambar di atas.Indah, sejuk ,kagum,mungil dan hal-hal yang tidak bisa kita sebutkan,akan muncul kalau kita melihat langsung dengan mata kepala kita sendiri  Masjid ini.
    Sayang sekali kalau anda berada di Tolitoli ataupun kalau berkunjung di Kota cengkeh ini kemudian anda melewatkan untuk mendatangi Masjid ini.Selain mesjid ini sangat indah juga masjid ini berada di kawasan pantai yang dari belakang masjid ini kita juga bisa melihat kawasan pantai kota cengkeh ini.Kalau anda berada di belakang Masjid ini maka aka terpampang kawasan pantai tolitoli yang sangat indah.
     
  • Chandra Alam 6:11 pm on 5 March 2010 Permalink
    Tags: , Mengenal Kota Cengkeh   


    Sebanyak lima perempuan dari 30 anggota DPRD Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, Minggu siang dilantik dan diambil sumpahnya sebagai anggota DPRD Tolitoli periode 2009-2014.
    Gubernur Sulawesi Tengah HB Paliduju menaruh apresiasi yang tinggi atas lima anggota DPRD yang mewakili kaum gender tersebut dalam peran politik dan demokrasi di Sulawesi Tengah.
    Paliudju berharap semoga lima anggota DPRD mewakili perempuan tersebut dapat mengangkat kabupaten Tolitoli melalui peran ibu-ibu. Lima perempuan yang berhasil duduk menjadi anggota DPRD hasil Pemilu 9 April itu adalah, Hj Resnawati Pabelu, St Mu`minang, Nursidah K Bantilan, dan Endang Hartati. Keempatnya terpilih melalui Partai Golkar. Satu anggota dewan lainnya yakni Hj Arna Hi Ardi terpilih dari Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB).
    Bahwasanya kota cengkeh ini adalah salah satu daerah yang cukup sukses dengan program emansipasi ini.Kabupaten ini tidak lagi mempermasalahkan masalah gender,yang ada dalam pemikiran masyarakat ini adalah siapa yang mampu dan baik dalam membangun kota cengkeh ini,itulah yang patut di pilih,tidak memandang dia perempuan atau pria,yang penting dia mampu dan berbobot itulah yang akan di pilih.
    Ini merupakan salah satu kemajuan di daerah yang berjuluk kota cengkeh.Untuk itu marilah kita bangun daerah ini dengan sebaik-baiknya karena semua itu untuk kita-kita juga.Hilangkan sikap egois dan mau menang sendiri,satukan asa dan karsa untuk kemajuan daerah ini.
     
  • Chandra Alam 3:31 pm on 27 February 2010 Permalink
    Tags: , Mengenal Kota Cengkeh   

    Desa Sabang adalah sebuah desa yang bernaung di Kecamatan Galang, Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia.
    Mayoritas penduduk Desa ini dihuni Suku Bugis, yang berasal dari Kabupeten Bone, yang telah bermukim sejak puluhan tahun. Penduduk di desa ini sebagaian besar bekerja pada sektor pertanian dan perkebunan.

    Desa Sabang merupakan desa yang masuk wilayah Kabupaten Tolitoli. Desa ini memiliki obyek wisata pantai yang sangat eksotik. Pantai ini terletak dapat ditempuh dengan kendaraan darat dari jantung Kota Tolitol yang jaraknya tidak kurang dari 15 Km. Kondisi jalan menuju ke lokasi ini sangat bagus dan sangat terawat dengan pemandangan sisi kanan dan kiri hamparan sawah, dan perkebunan cengkeh.
    Keunggulan Desa Sabang ada pada sumber mata air bersihnya [berjumlah tiga buah] yang berasal dari pegunungan, yang menjadi sumber kehidupan, baik untuk urusan rumah tangga [minum, makan, mencuci], pertanian [perkebunan kelapa, buah-buahan dll], dan perikanan [tambak atau empang ikan air tawar atau air laut].

    Tidak hanya itu Desa Sabang [dulu kala di kenal dengan Desa Sabang-Tende], dikenal sebagai “desa santri”, sehingga tidak heran setiap ulama yang datang ke Kabupaten Tolitoli menyempatkan diri bermalam di desa ini, contohnya KH. Ambbo Dalle, Imam Masjid Raya Sulawesi Selatan dll. Tidak heran bila kemudian di masyarakat bugis Sulsel sangat akrab dengan nama desa ini.

    Desa Sabang juga merupakan “Ikon Utama Pariwisata Kabupaten Tolitoli” karena satu-satunya pantai yang sangat indah di daerah ini dengan hamparan pasir putih dan dua buah pulau yang eksotik dan menawan.

    Pantai Desa Sabang memiliki air laut yang jernih, pepohonan yang rindang di tepi pantai di tambah lagi air pegunungan yang jernih dan alami yang mengalir langsung dari pegunungan.

    Keunggulan pantai ini yakni dua buah pulau yang disebut masyarakat sekitar dengan Pulau Sabang-Tende dan Pulau Madda’aung. Kedua pulau sangat indah dan eksotik yang dapat menjadi tempat untuk rekreasi dan memancing serta bermalam/kemping. Pantai Sabang tidak kalah jauh eksotiknya dengan beberapa pantai yang sudah kita kenal seperti di Bali, Bangka Belitung dll yang ada di Indonesia.

    Jarak kedua pulau dari bibir pantai hanya sekitar 300 m yang dapat ditempuh dengan Perahu Nelayan atau kalau air laut surut, bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari bibir pantai. Pantai Sabang juga menjadi “IKON” pariwisata Kota Tolitoli 2008 yang diharapkan dapat menarik wisatawan lokal atau domestik serta mancanegara untuk berkunjung.
    Pantai Sabang juga menawarkan terumbu karang dan ikan dari berbagai jenis yang tidak kalah eksotik dan indahnya dengan Bunaken di Manado, yang sangat cocok untuk penyelaman atau diving.

    (wikipidia)

     
  • Chandra Alam 3:22 pm on 27 February 2010 Permalink
    Tags: Mengenal Kota Cengkeh,   

    Kota yang berjuluk Kota Cengkeh mempunyai satu kelompok seni,yang mana pendirian kelompok seni bertujuan melestarikan kebudayaan kota cengkeh ini,tujuan lain berdirinya kelompok seni ini adalah sebagi duta daerah untuk memperkenalkan kota Tolitoli ke luar daerah bahkan ke mancanegara.
    Kelompok ini pada awalnya bernama kelompok seni pariwisata, dimana anggotanya lebih banyak di dominasi karyawan Dinas Kebudayaan & Pariwisata dan kebetulan Binaan dari Bapak Drs. Ibrahim Saudah yg merupakan Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya pada waktu itu, seiring berjalannya waktu dari tahun 2004 – 2009 kelompok tersebut beberapa kali berganti personil setiap pentas di beberapa even seni budaya yg ada di sulawesi tengah maupun even-even nasional.
    Pada tahun 2009 ketika kelompok seni ini tampil di Even Djogjakarta Gamelan Festival sekitar bulan Juli tahun 2009 maka nama Kelompok Seni Pariwisata di rubah menjadi Kelompok Seni Singgaian yang merupakan Ide dari salah satu seniman tolitoli dan merupakan kepala Bidang Seni dan Budaya yaitu Bapak Akhiruddin J, Umar. SH. dibawah Binaan Bapak Hasan Dg Manippi merupakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata periode 2008 s/d sekarang.. kelompok seni ini sudah beberapa kali mengikuti even even terbesar yang ada si Sulawesi Tengah seperti Pekan Budaya Propinsi dan even even nasionl.Even yang pernah di Ikuti Kelompok Seni Singgaian di antaranya :
    1. Pekan Budaya Propinsi (even tahunan sulteng) dari Tahun 2002 s/d sekarang )
    2.Festival Danau Poso (even tahunan) Sulawesi Tengah)
    3. Sulawesi Expo 2007 Di JCC Jakarta Tahun 2007
    4. Pementasan Musik Tradisional dalam rangka HUT RI DiIstana Merdeka Tahun 2007
    5. Pementasan Musik di Nusa dua Fiesta Bali Tahun 2007
    6. Pementasan Seni Di Taman Mini Indonesia Indah Tahun 2008
    7. Djogjakarta Gamelan Festival di Djogjakarta Tahun 2009
    dan masih banyak kegiatan seni yang di adakan di lokalan Tolitoli sendiri yang di ikuti kelompok Seni Singgaian Tolitoli..
     
  • Chandra Alam 3:15 pm on 12 February 2010 Permalink
    Tags: , Mengenal Kota Cengkeh, ,   

    Seperti daerah-daerah lainnya yang ada di Indonesia ini,Tolitoli juga punya beberapa budaya di bidang kesenian di antaranya adalah Lelegesan dan EY–EY.Kesenian ini biasanya di lakukan pada saat upacara-upacara tolak bala.Ritual tolak bala itu di lakukan dengan upacara adat dengan cara  menurunkan perahu yang dinamakan MAGANDURLAN BANGGA.
    Sebelum menurunkan perahu tersebut Masyarakat tolitoli memainkan beberapa kesenian tradisi seperti Musik Kulintang, Rabana, Ey-Ey (nyanyian rakyat), Lelegesan atau nyanyian dengan berbalas pantun sebagai rasa kegembiraan dengan dilaksanakannya upacara tolak bala tersebut.
    EY–EY merupakan nyanyian rakyat yang berasal dari etnis dondo yang berada di kabupaten tolitoli yang di gunakan pada saat acara–acara syukuran / selamatan, ritual pengobatan, pesta panen acara naik ayunan. EY–EY dinyanyikan secara bergantian oleh pria dan wanita di iringi dengan kecapi, gambus atau seruling.
    “EY-EY”
    • SALAM DOA PAKA SAMBEAN IA
    • O INA DEI KITA SASAKAN E…EY…EY
    • ITAI TAMO IAMO
    • O INA ADAT TAU TOTOLI
    • MAGANDULAN BANGGA
    • O INA GAGAUAN OPUNG KAMI E…EY…EY
    • KITA GILIJONAN IA
    • O INA MOGOLANGI BANGGA E…EY…EY
    • SUANG BANGGA NOTORIMMOSMO
    • O INA BANGGA ANDULANMO E…EY…EY
    • BANGGA NIANDU
    • O INA MOGUNDAMO LIPU E…EY…EY
    Sedangkan Lelegesan merupakan nyanyian yang berisi tentang ungkapan hati berupa rasa hormat, permohonan, sindiran, nasehat, rasa cinta dan ungkapan jenaka. Lelegesan biasa dinyanyikan sendiri atau secara bergantian antara pria dan wanita dengan di iringi musik tradisional kecapi atau gambus dan lelegesan dinyanyikan saat acara pesta perkawinan, pesta panen, memancing, acara syukuran / selamatan dan lain-lain.
    Saat sekarang ini kolaborasi antara music  kesenian rakyat dan music kesenian modern sangat gencar sekali di buat oleh pakar-pakar kesenian di Indonesia,begitu pula yang terjadi pada kesenian rakyat Tolitoli.Hasilnya sangat bagus sekali dan bertambah unik,dari hasilnya  kelihatan sekali budayawan-budayawan yang ada di Kota Cengkeh  mempunyai perhatian yang baik dalam mengembangkan kesenian daerahnya agar tidak di lupakan oleh masyarakatnya yang  hidup di zaman modern ini.Perjuangan mereka pantas di acungkan jempol,dan yang terlebih di utamakan agar mereka di perhatikan oleh Pemda setempat,karena mereka adalah yang sebenarnya pejuang-pejuang daerah di bidang kesenian daerah.
     
  • Chandra Alam 3:06 pm on 12 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: , Mengenal Kota Cengkeh   

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sarekat Islam (SI) lokal Toli-Toli merupakan organisasi
    pergerakan yang lahir dan berperan bagi masyarakat Toli-Toli pada tahun 1916-1919. Tahun-tahun tersebut
    masyarakat Toli-Toli berada dibawah kekuasaan pemerintah kolonial. Keberadaan pemerintah kolonial
    dengan kebijakannya seperti heerendienst dan belasting pada tahun 1916-1919, dirasakan masyarakat
    Toli-Toli sebagai faktor yang menyebabkan keterpurukan sosial, ekonomi dan politik masyarakat saat itu.
    Akan tetapi, isu-isu tersebut telah menjembatani hubungan SI dengan masyarakat, penguasa lokal Toli-Toli
    serta pemerintah kolonial di ToliToli. Pergerakan SI Toli-Toli juga memiliki khas kelokalan sebagaimana
    disebut-sebut sebagai ciri SI pada umumnya. Pendekatan-pendekatan SI lokal Toli-Toli melalui media
    agama, politik, sampai keberhasilannya dalam melibatkan penguasa lokal dalam proses pergerakannya,
    menjadikan SI lokal Toli-Toli memliki karakter yang berbeda dari SI-SI lokal lainnya. Ditinjau dari ideologi
    pergerakannya, SI lokal Toli-toli lebih dipengaruhi oleh salah satu unsur haluan CSI, yakni Abdoel Moeis.
    Indikasi tersebut didapat dari perjalanan pergerakan SI Toli-toli. Pendirian Abdoel Moeis yang keluar pada
    kongres-kongres CSI praktis diberlakukan di Toli-toli, seperti pemikiran Abdoel Moeis mengenai agama, ide
    nasionalisme, kapitalisme dan penekanan terhadap hal-hal umum. Melihat pengaruh SI yang mulai dirasakan
    oleh pihak pemerintah kolonial, maka skemudian pemerintah kolonial melakukan beberapa bentuk
    penekanan terhadap gerakan SI Toli-toli. Akan tetapi, ambisi tokoh SI lokal Toli-toli seperti Maros dan
    dukungan dari tokoh CSI seperti Abdoel Moeis, tekat SI untuk melawan pemerintah kolonial dapat
    dipertahankan. Sebagai indikasi pengaruh SI Toli-Toli adalah terjadinya peristiwa pemberontakan
    masyarakat pada tahun 1919 yang mengambil korban dari personil pegawai pemerintah kolonial dan
    penguasa lokal Toli-Toli. Spontanitas masyarakat Toli-Toli tidak dapat dijauhkan dari pengaruh SI Toli-Toli
    yang lahir dari tahun 1916.
    (Sumber-sumber arsip yang digunakan
    antara lain beberapa arsip dari bundel algeemene secretarie koleksi ANRI dan Sarekat Islam Conggres
    (1e-4e National Conggres). Batavia 1916-1920, geheim voor den dienst Koleksi perpustakaan Sana Budaya
    Yogyakarta.)
    .
     
  • Chandra Alam 8:14 am on 22 January 2010 Permalink
    Tags: , Mengenal Kota Cengkeh,   

    Tahukah anda …? ..bahwa  Memperkenalkan Tolitoli Bisa Lewat Tarian “Burung Maleo”…?
    Adalah Ny Hayati Ahada, yang punya ide untuk menciptakan tarian khas daerah Tolitoli. Ide itu muncul setelah sekian lama Hayati merenung, memikirkan apa yang pantas ia sumbangkan bagi daerahnya. Lantas terbersit ide, mengapa tidak ia ciptakan tarian “Burung Maleo”, seekor burung yang khas daerah Sulteng.
    Ide itu, tentu saja mendapat sambutan dari Ny Ir Nursida Bantilan, isteri Bupati Tolitoli, Drs HM Ma’ruf Bantilan, yang kebetulan sangat “gandrung” pada seni tradisional. Dan ide itu terus meluncur deras yang ditangkap dengan baik oleh Dinas Pariwisata dan Dinas Kebudayaan setempat. Jadilah kemudian tarian “Burung Maleo”, tarian khas Kabupaten Tolitoli yang akhirnya disertakan dalam Porseni tingkat Sulteng.
    Tarian “Burung Maleo” jadi penting dan merupakan maskot untuk Kabupaten Tolitoli, karena burung ini memiliki beberapa ke-khasan. Selain bentuk badannya yang besar–sebesar ayam–bulu dan tingkah lakunya berbeda daripada burung pada umumnya.
    Menurut keterangan masyarakat Tolitoli, burung Maleo ini biasa hidup di hutan lebat. Namun setiap kali bertelur ia memilih tempat di pinggir pantai dengan cara menanam telurnya di pasir. “Biasanya telur burung itu besarnya sama dengan tujuh kali telur ayam,”
    Kelebihan lain dari burung Maleo ini, ia tidak pernah mengerami telurnya. Namun penetasan telur itu dilakukan secara alamiah, yakni dengan bantuan panas matahari. Dan kabarnya, setiap sebulan sekali burung tersebut bertelur,”
     
  • Chandra Alam 8:03 am on 22 January 2010 Permalink
    Tags: , Mengenal Kota Cengkeh,   

    Tahukah anda bahwa di  Kota Cengkeh ini ada Penyu hijau dan sejenis burung maleo………?
    Penyu hijau di kota cengkeh ini terdepat  di Pulau Lingayan, salah satu pulau terluar di Tolitoli, Sulawesi Tengah,dan saat ini Penyu Hijau ini terancam punah menyusul masih maraknya aksi pemburuan satwa laut yang dilindungi tersebut.
    Informasi dari “Bachtiar, ketua Pecinta Lingkungan Lingayan” menurutnya “telur dan daging penyu hijau tersebut laku dijual dengan harga yang tinggi. Modus penjualannya melalui daratan Ogotua, masuk ke Tolitoli, sebagian melalui jalur laut, lalu dijual kepada orang tertentu.” Penyu ini kata Bahctiar biasanya bertelur pada saat bulan 11, 12 dan bulan 22 di langit. Pada musim bertelurnya itulah, warga mulai berjaga-jaga menanti penyu hijau itu bertelur.
    “Kalau penyunya biasanya mereka pancing dengan menggunakan kail khusus sehingga penyu ini bisa mereka tangkap,” ujarnya.
    Selain penyu hijau, penyu sisik di salah satu pulau terluar Tolitoli tersebut juga menjadi incaran oleh para pemburu penyu. Untuk penyu yang satu ini, selain telurnya sisiknya juga bernilai ekonomi tinggi. Bachtiar menduga pelakunya berasal dari Kalimantan dan Kabupaten Donggala.
    Di Pulau Lingayan juga terdapat species binatang sejenis Maleo yang oleh masyarakat lokal menyebutnya Molong. Binatang ini berwarna hitam dan besarnya kurang lebih burung Maleo. Species burung ini terbatas yang jumlahnya diperkirakan tidak lebih dari 50 ekor.
    Melihat kenyataan ini maka kami mengharapkan agar pemerintah daerah memperhatikan kelestarian satwa-satwa langkah yang ada di daerah ini.
    Juga peran serta dari masyarakat dalam membantu pemerintah daerah dalam melindungi satwa langkah yang ada di kabupaten Tolitolitoli sangatlah penting.
    Jadi marilah kita saling bekerjasama,bahu – membahu  di dalam melindungi satwa-satwa langkah ini.
     
  • Chandra Alam 7:07 am on 21 January 2010 Permalink
    Tags: Mengenal Kota Cengkeh   

    INVENTARISASI DAN EVALUASI MINERAL LOGAM
    DI DAERAH KABUPATEN DONGGALA DAN TOLITOLI

    Oleh :
    Hotma Simangunsong, Dipl.ME, Deddy T. Sutisna, MSc,
    SUB DIT. MINERAL LOGAM
    S A R I
    Lokasi inventarisasi dan evaluasi bahan galian mineral logam berada di bagian leher P. Sulawesi secara administratip meliputi 2 kabupaten, yakni Kabupaten Donggala dan Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah.
    Stratigrafi batuan yang terdapat adalah batuan malihan (merupakan batuan tertua berumur Kapur), selang seling batuan gunungap dan batuan sedimen, batuan terobosan intermedier dan endapan permukaan berumur Holosen.
    Struktur utama yang terdapat di daerah ini berarah Baratlaut – Tenggara, berupa sesar mendatar mengiri disebut sebagai sesar Palu – Koro yang sampai sekarang masih aktip bergerak dengan kecepatan 2 – 3,5 mm setiap tahun, diperkirakan berumur Oligosen (Sudradjat, 1981).
    . Bahan galian yang terdapat di daerah Kabupaten Donggala antara lain adalah :
    –          Bahan galian logam terdiri dari emas, tembaga dan timbal.
    –          Bahan galian non-logam terdiri dari granit/diorit/andesit, sirtu/pasir, lempung, batugamping, marmer, pasir kuarsa, felsfar, kaolin, kalsedon dan mika.
    –          Bahan galian batubara dan gambut terdiri dari batubara.
    . Bahan galian yang terdapat di daerah Kabupaten Tolitoli antara lain adalah :
    –          Bahan galian logam terdiri dari molibdenit, emas dan timbal.
    –          Bahan galian non-logam terdiri dari granit.
    Secara umum bahan galian tersebut belum dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal, sehingga perlu dipelajari bagaimana cara memanfaatkan dan mengembangkan bahan galian dengan benar dan berwawasan lingkungan, sehingga dapat bermanfaat secara maksimal untuk kesejahteraan masyarakat sekitarnya.
    1. PENDAHULUAN
    Lokasi kegiatan inventarisasi dan evaluasi sumber daya mineral di daerah Kabupaten Donggala dan Kabupaten Toli-Toli, Provinsi Sulawesi Tengah; merupakan kegiatan sub tolok ukur mineral logam untuk tahun anggaran 2002 .
    Maksud dilakukannya inventarisasi dan evaluasi sumberdaya mineral di Kabupaten Donggala dan Kabupaten Toli-toli adalah untuk mencari data primer maupun data sekunder tentang potensi sumber daya mineral yang terdapat di daerah ini untuk melengkapi bank data yang telah dimiliki oleh Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral.
    Tujuannya adalah untuk pembuatan Bank Data Sumber Daya Mineral Nasional dengan data terbaru dan akurat. Data tersebut dapat membantu untuk memudahkan pemerintah daerah setempat dalam rangka pengembangan wilayah guna menggali pendapatan asli daerah dibidang pertambangan.
    Metoda yang digunakan dalam melaksanakan pekerjaan adalah pengumpulan data sekunder, pengumpulan data primer dan pemeriksaan laboratorium. Pengumpulan data sekunder berasal dari laporan-laporan penyelidikan mineral yang telah dilakukan sebelumnya oleh instansi terkait (pemerintah) maupun pihak swasta. Pengumpulan data primer diperoleh dengan cara melakukan uji petik di lapangan guna mendapatkan data primer untuk pengecekan akurasi data yang didapat (terutama dari instansi terkait maupun dari data sekunder) dengan melakukan kegiatan pengamatan lapangan, pengambilan conto batuan & bongkah, sedimen sungai dan konsentrat dulang. Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada conto-conto dari hasil uji petik di lapangan.
    2. GEOLOGI UMUM
    2.1. Stratigrafi
    Pulau Sulawesi terbentuk pada sepanjang zona tumbukan Neogen antara Lempeng Benua Eurasia dan mikrokontinen dari Lempeng Australia-Hindia. Daerah penyelidikan merupakan bagian leher dan lengan Utara Sulawesi, terletak di bagian Timur Kraton Sunda yang merupakan inti dari pada lempeng Eurasia bagian Tenggara yang mengalami pengangkatan kuat.
    Satuan batuan yang tertua di daerah penyelidikan adalah Komplek Batuan Malihan, terdiri dari sekis amfibolit, sekis genes, kuarsit dan pualam, diperkirakan berumur Kapur. Pada beberapa tempat terdapat intrusi-intrusi kecil diorit, granodiorit mengandung  urat kuarsa yang kadang-kadang berpirit.
    Formasi Tinombo menindih tidak selaras Komplek Batuan Malihan, terbentuk dalam lingkungan laut dalam, berumur Oligosen hingga Miosen Awal. Formasi ini merupakan perselingan antara batuan gunungapi (lava basalt, andesit, breksi) dengan batuan sedimen (batupasir wake, batupasir, batugamping, rijang) dan batuan malihan.
    Komplek Batuan Malihan ditindih secara tidak selaras oleh Formasi Latimojong, berumur Kapur-Paleosen, terbentuk pada lingkungan laut dalam. Formasi ini pada umumnya termalihkan lemah, terdiri dari perselingan batusabak, filit, grewake, batupasir kuarsa, batugamping, argilit dan batulanau dengan sisipan konglomerat, rijang dan batuan gunungapi.
    Batuan Gunungapi Lamasi yang terdiri dari breksi gunungapi, tuf, batupasir tufaan dan napal, berumur Oligosen-Miosen Awal menindih tidak selaras Formasi Latimojong.
    Batuan Gunungapi yang terdiri dari lava andesit horblenda, lava basalt, lava latit kuarsa dan breksi yang juga berumur Oligosen-Miosen Awal.
    Batuan Gunungapi Tineba dan Tuf Rampi. Batuan Gunungapi Tineba berumur Miosen Tengah-Akhir, terdiri dari lava andesit hornblenda, lava basalt, lava latit kuarsa dan breksi. Tuf Rampi umumnya batuan tufaan yang sudah terubah dan berlapis baik yang terdiri dari tuf hablur, batupasir tufan dan tuf abu.
    Satuan Batuan Sedimen Miosen, berupa lingkungan pengendapan delta, terdiri dari batupasir kuarsa sampai litos, batulumpur, sedikit konglomerat, setempat lignit dan batubara, batugamping koral ; di bagian atas lava, tufa, aglomerat, breksi gunungapi bersusun asam sampai basa, kayu terkersikan.
    Batuan intrusi juga berumur Miosen terdiri dari granit, diorit granodiorit dan sienit, setempat mengalami ubahan terkersikan. Masih banyak terdapat intrusi-intrusi kecil yang tak terpetakan terdiri dari andesit, basalt, diorit, diorit porfir dan mikrodiorit. Mineralisasi di daerah penelitian diperkirakan berhubungan erat dengan terobosan batuan ini.
    Molasa Sulawesi Sarasin dan Sarasin, terdiri dari konglomerat, batupasir, batulempung, batugamping koral dan napal, semuanya mengeras lemah, menindih secara tidak selaras Formasi Tinombo dan komplek batuan malihan berumur Miosen Akhir hingga Pliosen. Di bagian Selatan daerah penelitian formasi ini disebut Formasi Lariang, terdapat sebagian kecil di daerah penelitian, penyebaran terbesar berada di luar daerah penelitian.
    Batuan Gunungapi andesitan, terdiri dari andesitan – dasitan, breksi gunungapi, aglomerat, tufa lapilli (batuapung), lava (andesit – dasit), berumur Pliosen.
    Batuan berumur Miosen-Plistosen menutupi tidak selaras batuan yang berada di bawahnya terdiri dari Formasi Pasangkayu, Formasi Puna dan Formasi Napu. Formasi Pasangkayu terdapat dalam lingkungan pengendapan laut dangkal hingga agak dalam, terdiri dari perselingan batugamping dan batulempung, setempat bersisipan konglomerat dan batugamping. Formasi Puna, berupa pengendapan laut dangkal, terdiri dari batupasir, konglomerat, batulanau, serpih, batulempung gampingan dan batu gamping. Formasi Napu, terdiri dari batupasir, konglomerat, batulanau dengan sisipan lempung dan gambut, berada dalam lingkungan pengendapan laut dangkal sampai payau.
    Sedimen Plistosen, terdiri dari kerikil, pasir, lanau, lempung hitam, sisipan batupasir tufaan dan napal.
    Batuan berumur Plistosen-Holosen terdiri dari Formasi Pakuli, batu gamping koral, dan endapan danau. Formasi Pakuli terdiri dari konglomerat dan batupasir, setempat batu lempung karbonatan, merupakan endapan darat pada lereng pegunungan yang berbentuk kipas dan teras sungai. Batugamping koral terdiri dari batugamping koral dan breksi koral dengan cangkang moluska dan napal, terdapat pada lingkungan laut dangkal. Endapan danau terdiri dari pasir, lempung dan kerikil, sebagian mengeras, terdapat pada cekungan-cekungan terpisah di atas dataran tinggi daerah Sulawesi Tengah.
    Alluvium merupakan endapan termuda, berumur Holosen, terdiri dari lempung, pasir, kerikil dan setempat-setempat terumbu koral, merupakan endapan sungai, pantai dan rawa.
    Secara keseluruhan penyebaran batuan daerah penyelidikan dapat dilihat pada Gambar2.
    2.2. Struktur Geologi
    Struktur utama yang terdapat  di daerah penelitian adalah sesar Palu – Koro yang merupakan sesar utama, berarah Baratlaut – Tenggara, berupa sesar mendatar mengiri dan masih giat hingga kini, percepatan pergeserannya diperkirakan 2 – 3,5 mm setiap tahun (Sudradjat, 1981), sesar ini diperkirakan terbentuk sejak Oligosen. Lajur sesar ini melebar kearah Utara dan juga banyak berkembang sesar menangga yang menyebabkan terbentuknya lembah Palu. Di bagian tengah daerah penyelidikan terdapat sesar-sesar lainnya berarah sejajar maupun tegak lurus arah sesar utama yang terbentuk bersamaan atau setelah sesar utama. Semakin kearah Utara di samping sesar mendatar juga terjadi pergeseran tegak, dimungkinkan oleh terjadinya pengangkatan akibat tabrakan lempeng benua.
    3. HASIL PENYELIDIKAN
    3.1. Uji Petik Daerah Ogowele
    Daerah Ogowele termasuk dalam Desa Ogowele, Kecamatan Dondo, Kabupaten Tolitoli. Stratigrafi daerah Ogowele terdiri dari Formasi Tinombo yang berumur Oligosen hingga Miosen-Awal, terdiri dari batusabak, filit, batupasir, gamping yang termarmerkan, rijang, batulanau dengan sisipan konglomerat dan batuan gunungapi. Formasi ini diterobos oleh batuan granit bertekstur holokristalin, berbutir halus hingga > 2mm, bentuk mineral anhedral – subhedral, disusun oleh mineral ortoklas, kuarsa, plagioklas, horblende, biotit dan mineral opak, mengalami ubahan lempung, serisit, klorit dan sebagian batuan ini mengalami pelapukan yang cukup dalam. Kontak dengan Formasi Tinombo berupa daerah patahan yang berarah Baratdaya – Timurlaut. Setempat batuan granit diterobos oleh retas kecil 10 – 20 cm dioritik terkersikan dan juga mengalami ubahan propilit mengandung pirit dan klorit. Keseluruhan batuan tersebut di atas ditutupi oleh endapan alluvial.
    Hasil pemeriksaan mineralogi butir terhadap konsentrat dulang ditemukan butiran emas pada lokasi conto PC.18/ST dan PC.19/ST di daerah bagian hulu S. Ogogasang. Bentuk batas tepi butir menyudut lancip sampai dengan tumpul tidak beraturan, padat dan permukaan kasar, terkesan tranportasi belum jauh. Mineral lain yang ditemukan pada lokasi ini antara lain adalah Wolframit, kalkopirit, pirit.
    Sebanyak 13 conto sedimen sungai aktip yang dianalisa kimia dari daerah ini didapat hasil sebagai berikut : Cu (8 – 75 ppm), Pb (21 – 205 ppm), Zn (30 – 214 ppm), Sb (0 – 10 ppm), Mn (287 – 548 ppm), Ag (1 – 2 ppb), Au (4 – 2119 ppb), As (0 – 50 ppb).
    Hasil yang cukup menarik adalah conto bongkah batuan R 19 / F / ST yaitu batuan diorit porpir yang mengalami ubahan propilitik, mengandung pirit, kalkopirit, galena dan spalerit yang tersebar merata. Hasil analisa kimia menunjukkan Cu = 45 ppm, Pb = 1140 ppm, Zn = 1320 ppm, Au = 27 ppb. Bongkah batuan diorit yang terkersikan mengandung pirit, galena terdapat pada conto R 21 / F / ST. Analisa kimia menunjukkan Cu = 45 ppm, Pb = 138 ppm, Zn = 180 ppm, Au = 22 ppb. Conto bongkah (R 22 / F / ST) berupa batuan gunungapi andesitik dipotong oleh urat kuarsa yang mengandung pirit, kalkopirit, galena, spalerit dan mengalami ubahan propilitik, menunjukan hasil analisa kimia Cu = 194 ppm, Pb = 3540 ppm,  Pb = 3240 ppm, Au = 2 ppb. Ditemukan juga bongkah batuan lanau (R / 23 / F / ST), mengalami ubahan propilitik, dipotong oleh urat kuarsa mengandung pirit, kalkopirit dan juga mengisi rekahan. Analisa kimianya menunjukkan Cu = 90 ppm, Pb = 100 ppm, Zn = 88 ppm, Au = 38 ppb. R 20 / F / ST merupakan conto batuan sekis dipotong oleh urat kuarsa yang mengalami ubahan propilitik mengandung pirit, sfalerit dan kalkopirit, analisa kimia menunjukkan Cu = 181 ppm, Pb = 133 ppm, Zn = 97 ppm, Au = 2 ppb. Bongkah conto R 24 / F / ST merupakan urat kuarsa mengandung bercak pirit dan oksida mangan pada rekahan, terdapat ubahan advance argilic. Analisa kimia mengandung Cu = 18 ppm, Pb = 58 ppm, Zn = 27 ppm, Au = 72 ppb.
    Dari hasil analisa tersebut diatas dan berdasarkan pengamatan lapangan, menunjukan bahwa di daerah Ogowele terdapat mineralisasi logam dasar (timbal, tembaga, seng) dan juga emas. Secara umum singkapan batuan dan bongkah mengalami ubahan propilitik.
    Diperkirakan mineralisasi tipe „epithermal low sulphidation“ di daerah ini berhubungan dengan batuan intrusi.
    3.2. Uji Petik Daerah Nalu
    Daerah Nalu termasuk dalam Desa Nalu, Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli. Batuan di daerah ini berupa lempung merah termalihkan, merupakan bagian dari Formasi Tinombo, berumur Oligosen hingga Miosen Awal. Batuan ini dipotong oleh urat-urat kuarsa dengan ketebalan 5 – 10 cm, dengan arah utama N 340° E /  75° – 85° diisi oleh oksida mangan dan  bercak galena, beberapa urat kuarsa bertekstur sugary
    Rekahan banyak terdapat pada batuan, dengan arah utama N 330° – 350° E, dipotong oleh lineasi patahan dengan arah N 240° – 260° E. Sebagian besar rekahan diisi oleh oksida mangan dan limonit. Pada struktur “bedding” dengan arah N 230° / E pada bagian-bagian tertentu  diisi oleh galena.
    Ubahan terkersikan ditemukan pada batuan ini terdapat pada zona breksiasi yang membentuk “ boudinage Â“, mengandung pirit sangat halus.  Selain itu ditemukan juga ubahan argilit hingga advance argilite.
    Dari 3 conto batuan Daerah Nalu yang dianalisa kimia, ditemukan adanya kandungan emas meskipun nilainya rendah (7 – 22 ppb), Cu (28 – 167 ppm), Pb (55 – 65 ppm), Zn (28 – 311 ppm), Mn (720 – 8400 ppm), Sb (2 – 6 ppb), Ag (4 – 29 ppb) dan As (16 – 26 ppb).
    Analisis mineragrafi pada conto urat kuarsa (R 17/ ST) menunjukkan hasil yang tidak menggembirakan, hanya mengandung pirit dan oksida besi. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa di daerah ini indikasi mineralisasi logam dasar (timbal, seng, tembaga), mangan dan emas yang merupakan tipe endapan „epithermal low sulphidation“, potensinya kurang prospek.
    3.3. Uji Petik Daerah Pasir Putih
    Daerah Pasir Putih termasuk dalam Desa Pasir Putih, Kecamatan Dondo, Kabupaten Tolitoli. Tufa pasiran berwarna putih kecoklatan merupakan bagian dari Formasi Tinombo, berumur Oligosen hingga Miosen Awal adalah batuan yang terdapat di daerah ini. Batuan ini dipotong oleh urat kuarsa berstruktur “ banded Â“ dengan arah N 10° E / 50°, terdapat oksida mangan berupa “ stain Â“. Urat kuarsa ini dipotong oleh urat-urat lain yang mengisi rekahan (Gambar 5). Beberapa tempat di bagian dasar singkapan terjadi breksiasi dengan dengan kuarsa sebagai fragmen dan lempung ubahan sebagai pengikat.
    Adanya mineralisasi mangan berupa “stainning“ memungkinkan juga untuk terdapatnya mineralisasi emas pada urat kuarsa bertekstur „banded“ (conto R 12 / ST) yang menerobos batuan dasar berupa tufa pasiran (conto R 12 A / ST dan R 12 B / ST, ). Hal ini dapat dibuktikan dari hasil analisa kimia batuan pada conto R.12 / ST yang nilai unsur emas (Au) = 5 ppb dan mangan (Mn) = 150 ppm.
    Analisis mineragrafi menunjukkan bahwa conto urat kuarsa R 12/ ST hanya mengandung pirit dan oksida besi. Kedua jenis analisa tersebut tidak saling menunjang, sehingga mineralisasi daerah ini kurang prospek.
    Hasil analisa PIMA menunjukkan adanya ubahan filik-serisitik dan pada daerah breksiasi ditemukan fragmen urat kuarsa yang dibungkus oleh “clay alteration“, hal ini menunjukkan bahwa indikasi endapan adalah tipe urat yang berhubungan dengan batuan intrusi di daerah ini.
    3.4. Uji Petik Daerah Kayu Lompa
    Geologi daerah Kayu Lompa ditempati oleh endapan sungai (alluvial) yang terdiri dari lumpur, pasir, kerikil dan bongkah batuan. Morfologi daerah ini datar, berada pada 2 aliran sungai, yaitu S.Tungkaran dan S.Gendopo. Pada pengecekan dengan melakukan pendulangan ditiga lokasi ditemukan adanya mineralisasi emas (Gambar 6). Sekitar daerah ini terdapat urat-urat kuarsa yang terperangkap pada batuan malihan dengan arah N 275° – 285° E dengan kemiringan 75° – 80°, selain itu urat-urat kuarsa juga terdapat pada Formasi Tinombo.
    Emas plaser ditemukan dalam conto konsentrat dulang dari aliran S.Tungkuan dan S.Gindopo, daerah Kayu Lompa, Kecamatan Dondo. Pada waktu-waktu tertentu atau pada musim kemarau beberapa penduduk setempat melakukan pendulangan guna mendapatkan emas. Analisa butir conto konsentrat dulang PC26/ST, PC27/ST dan PC28/ST (Gambar 6), memperlihatkan butiran-butiran emas berukuran FC sampai dengan CC (300 – 1200 mikron), dengan bentuk batas tepi menyudut tumpul tak beraturan sampai dengan membulat tanggung yang menunjukkan kesan transportasi belum jauh.
    Pada daerah sekitar terdapat urat-urat kuarsa berstruktur “banded”, mengandung oksida mangan dan pada beberapa tempat terdapat ubahan hydrothermal berupa argillitisasi dan kaolinisasi.
    Perlu dilakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui tempat kedudukan emas primer dan potensi endapan emas plaser di daerah ini.
    3.5. Uji Petik Daerah S. Fiura.
    Daerah S.Fiura secara administrasi termasuk Desa Kalora, Kecamatan Warawola, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Stratigrafi batuan yang terdapat didaerah ini  mulai yang tertua hingga ke yang lebih muda adalah :
    Formasi Tinombo terdiri dari serpih, batupasir, konglomerat, batuan gunungapi, batugamping, rijang, filit, batusabak dan kuarsit, diperkirakan berumur Eosen Tengah hingga Atas (Bouwer, 1934).
    Batuan intrusi yang ditemukan didaerah S. Fiura didominasi oleh batuan diorit kuarsa disusun oleh mineral kuarsa, plagioklas, biotit, hornblende dan mineral opak, berbutir halus hingga > 2 mm dengan bentuk anhedral – subhedral dengan tekstur holokristalin, diperkirakan berumur Miosen.
    Endapan Molasa, berumur Miosen Tengah terdiri dari konglomerat, batupasir, batulumpur, batugamping koral dan napal yang kesemuanya hanya mengeras lemah. Batuan ini berasal dari rombakan batuan tua seperti batuan malihan dan batuan dari Formasi Tinombo, ke arah laut batuan ini beralih menjadi batuan klastik berbutir halus, singkapannya dijumpai di dekat pantai sekitar desa Buluri. Lingkungan pengendapan adalah laut dangkal, sehingga endapan sungai kuarter juga dimasukkan ke dalam satuan ini.
    Struktur patahan ditemukan di mura S. Fiura yang berarah Baratlaut – Tenggara, merupakan sesar utama di daerah penyelidikan. Sesar ini memisahkan endapan Molasa dengan batuan lainnya. Struktur patahan lainnya dapat diamati di S.Yola dengan arah baratdaya – timurlaut. Sesar ini merupakan zona kontak antara batuan dari Formasi Tinombo dengan batuan terobosan granitik.
    Hasil pemeriksaan mineralogi butir dari conto PC.1/ST dan PC.51/ST yang berasal dari daerah S. Fiura tidak menunjukkan adanya mineralisasi logam di daerah ini, tetapi hasil analisa kimia dari conto sedimen sungai aktip, yakni conto SS.1/ST dan SS.51/ST pada lokasi yang sama menunjukkan adanya indikasi mineralisasi emas (Au) dengan nilai yang sangat kecil (Au = 4 ppb).
    Dari hasil 3 conto bongkah batuan yang dianalisa kimia dari daerah S. Fiura  ditemukan adanya mineralisasi emas (Au), tembaga (Cu), galena (Pb) dan seng (Zn), yakni : conto Y 6 F (Au = 66500 ppb, Cu = 400 ppm, Pb = 89000 ppm, Zn = 810 ppm); Y 7 F ( Au = 91 ppb, Cu = !60 ppm, Pb = 201 ppm, Zn = 16600 ppm); Y 8 F ( Au = 14 ppb, Cu = 35 ppm, Pb = 64 ppm, Zn = 36 ppm).
    Secara megaskopis bongkah batuan conto no. Y 7 F dan Y 8 F adalah urat kuarsa yang memotong batuan granitik mengandung mineralisasi pirit, oksida tembaga, kalkopirit dan urat-urat galena.
    Berdasarkan PIMA conto Y7F mengalami ubahan filik dan conto Y8F mengalami ubahan potasik. Pada conto bongkah Y 6 F ditemukan urat kuarsa lebar 2 – 5 cm dalam granit terubah yang mengandung bijih galena, Selain itu juga terdapat pirit halus tersebar, kalkopirit, covelit dan oksida besi, serta mengalami ubahan advande argilik.
    Di daerah S. Yola ditemukan bongkah batupasir dipotong oleh urat kuarsa mengandung pirit, oksida tembaga dan kemungkinan galena (conto R1 / F/ ST) dan bongkah batuan malihan yang juga dipotong oleh urat kuarsa halus mengandung butiran halus pirit dan kalkopirit (conto R2 / F/ ST). Pada daerah ini  diambil satu conto sedimen sungai dan konsentrat dulang (conto SS/PC/1/ST).
    Berdasarkan data – data yang disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa di daerah ini terdapat mineralisasi logam dasar (tembaga, timbal, seng) dan emas tipe porpiri.
    3.6. Neraca Sumber Daya Mineral
    3.6.1. Bahan Galian Logam Kabupaten Donggala
    Secara keseluruhan lokasi keterdapatan mineral logam di Kabupaten Donggala . Mineral-mineral tersebut antara lain adalah :
    Emas, terdapat pada 7 lokasi. Daerah Poboya merupakan salah satu lokasi yang diperkirakan mempunyai sumber daya hipotetik 18 juta ton dengan kadar rata-rata Au = 3,4 gr / ton, merupakan endapan primer tipe “epithermal low sulphidation”. Kuasa Pertambangan daerah ini dimiliki oleh PT. Citra Palu Mineral dan keterdapatan cadangan emas berada dalam kawasan hutan lindung. Hal ini merupakan masalah yang harus dipikirkan pemecahannya.
    Tembaga, terdapat di 6 titik lokasi, kesemuanya masih berupa indikasi yang ditemukan pada bongkah- bongkah batuan intrusi granodiorit, diorit dan malihan yang dipotong oleh urat kuarsa.
    Timbal, berupa indikasi mineralisasi timbal/galena, ditemukan pada singkapan maupun bongkah – bongkah batuan intrusi granit dan granodiorit yang diterobos oleh urat-urat kuarsa, di 6 ttitik lokasi.
    3.6.2. Bahan Galian Non-logam Kabupaten Donggala
    Beberapa jenis bahan galian non-logam di daerah Kabupaten Donggala lokasi dan penyebarannya dapat dilihat pada Gambar 9. Bahan galian tersebut antara lain adalah granit / diorit / andesit (16 titik lokasi dengan jumlah sumberdaya 281.873,93 juta ton), sirtu / pasir (29 titik lokasi sirtu/pasir, besar sumberdaya sebanyak 1.80 juta.ton), lempung (4 titik lokasi dengan potensi sumberdaya sebesar 12,65 juta ton), batugamping (potensi sumberdaya berjumlah 695,65 juta ton), sebahagian besar potensi tersebut berada di Kecamatan Banawa yang merupakan daerah konsesi PT.Cipta Cakra Murti, marmer (1 titik lokasi), di daerah Desa Parigintu, Kecamatan Parigi, Kabupaten Donggala dengan luas > 2 ha, sumberdaya 1,10 juta ton, pasir kuarsa, (3 titik lokasi) dengan jumlah potensi sebesar 0,05 juta ton, felsfar (4 titik lokasi) dengan jumlah potensi sumberdaya sebesar 40,81 juta ton, kaolin (terdapat pada 1 titik lokasi), sumberdaya belum diketahui dan sampai sekarang belum diusahakan, mika (2 titik lokasi), potensi sumber dayanya belum diketahui, kalsedon (1 titik lokasi), berupa indikasi pada endapan alluvial yang terdiri dari bongkah-bongkah kalsedon bersama dengan rijang, agat dan jasper, potensi sumberdaya endapan ini belum diketahui.
    3.6.3. Bahan Galian Batubara dan Gambut Kabupaten Donggala
    Batubara ditemukan di Desa Toaya hingga Tamarenja, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, merupakan batu bara jenis “peat” hingga “lignit brown coal” dengan ketebalan 0.15 – 3.0 m, penyebarannya ± 15 ha, terdapat dalam Formasi Molasa berselang seling dengan lempung dan batupasir. Hasil analisa batubara tersebut yang dilakukan oleh Dinas Pertambangan Kabupaten Donggala menunjukkan komposisi dari kadar air 20,79 %, abu 9,68 %, fix carbon 29,55 %, belerang 1,26 % dan nilai kalori 4130 kkal. . Potensi sumberdaya batubara belum diketahui.
    3.6.4. Bahan Galian Logam Kabupaten Toli-Toli
    Lokasi keterdapatan mineral logam di daerah Tolitoli dapat dilihat pada Gambar 10, bahan galian tersebut antara lain adalah : Molibdenit (1 lokasi) di daerah Malala, Kecamatan Dondo merupakan potensi yang paling besar dengan jumlah cadangan terkira sebesar 81 juta ton bijih dengan kadar 0,15 MoS2, yang telah dieksplorasi oleh PT.Rio Tinto Indonesia, timbal (2 titik lokasi), berupa indikasi dimana mineral galena terdapat dalam urat-urat kuarsa yang memotong batuan intrusi dengan kadar 7920 ppm, emas (3 titik lokasi), ditemukan baru berupa indikasi endapan alluvial pada sungai-sungai di daerah Kayu Lompa.
    3.6.5. Bahan Galian Non-logam Kabupaten Tolitoli
    Lokasi keterdapatan mineral non-logam di daerah Tolitoli dapat dilihat pada Gambar 11, dengan rincian sebagai berikut : granit (terdapat 4 titik lokasi) dengan jumlah sumberdaya sebesar 19.995,40 juta ton, dengan rincian sumberdaya hipotetik sebesar 19.993,81 juta ton dan sumberdaya tereka sebesar 1,59 juta ton. Bahan bangunan lainnya berupa pasir dan sirtu penambangannya banyak dilakukan rakyat secara tradisional pada hampir setiap muara atau aliran sungai di setiap kecamatan. Belum ada catatan yang teratur tentang keterdapatan atau produksi bahan-bahan lainnya.
    3.6.6. Pembahasan Neraca Sumber Daya Mineral
    Secara umum data-data potensi mineral yang diperoleh hanya berupa sumberdaya, hanya satu potensi mineral yang berupa cadangan yakni cadangan molibdenit di daerah Kabupaten Tolitoli. Data produksi tahunan bahan galian dari  masing-masing kabupaten juga masih sulit diperoleh, mengingat pemberian ijin dan pengawasan dari pihak yang berwenang masih belum dijalankan dengan baik. Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka status neraca sumberdaya / cadangan tahun 2001 belum dapat ditampilkan dengan sempurna. Dengan kata lain status neraca sumberdaya/cadangan tahun 2001 sama dengan nilai potensi sumberdaya/ cadangannya, seperti yang telah dijelaskan di atas.
    3.6.7. Prospek Pemanfaatan dan Pengembangan Bahan Galian
    Berdasarkan pengamatan dan data-data lapangan serta hasil studi literatur dari data sekunder, maka komoditi yang dianggap mempunyai nilai prospek pemanfaatan dan pengembangan pada saat ini untuk Kabupaten Donggala adalah : granit, diorit, andesit ; sirtu, pasir ; batugamping ; marmer ; emas letakan / alluvial ; dan untuk Kabupaten Tolitoli adalah : granit ; emas letakan / alluvial.
    4. KESIMPULAN
    1. Hasil evaluasi data sekunder dan primer yang dituangkan dalan peta digital (GIS), menunjukan sebaran titik lokasi keterdapatan bahan galian mineral untuk tiap kabupaten diperoleh hasil sebagai berikut : Kabupaten Donggala (mineral logam 19 titik lokasi, mineral non-logam 72 lokasi, batubara 1 titik lokasi), Kabupaten Tolitoli (mineral logam 6 titik lokasi, mineral non-logam 4 titik lokasi).
    2. Hasil uji petik dari daerah S. Fiura, daerah Ogowele dan terutama daerah Kayu Lompa, menyimpulkan bahwa suatu kajian dan penyelidikan lanjutan sangat dianjurkan, sedangkan untuk daerah Nalu dan Pasir Putih diperkirakan kurang prospek.
    3. Potensi Kabupaten Donggala untuk bahan galian logam yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan saat ini adalah emas letakan / plaser, sedang untuk bahan galian non-logam antara lain adalah granit, diorit, andesit ; sirtu / pasir dan batugamping.
    4.         Potensi bahan galian logam Kabupaten Tolitoli yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan saat ini adalah emas letakan / plaser, sedang untuk bahan galian non-logam hanya granit.
    5.         Perlu dilakukan pembuatan ‘’databaseÂ’Â’ dan neraca sumberdaya mineral secara rinci untuk menginventarisasi seluruh bahan galian yang terdapat disetiap kabupaten.
    6.         Diperlukan data yang lengkap tentang produksi bahan galian untuk memudah-kan pembuatan neraca sumberdaya mineral, dimana sekarang data tersebut kurang / belum lengkap dimasing-masing kabupaten.
    7.         Untuk menjaga keseimbangan lingkungan, demi terlaksananya pembangunan yang berwawasan lingkungan, perlu dilakukan pengawasan pertambangan yang ketat baik dari segi produksi dan daya dukung lingkungan.
     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal