Tarian “Burung Maleo”

Tahukah anda …? ..bahwa  Memperkenalkan Tolitoli Bisa Lewat Tarian “Burung Maleo”…?
Adalah Ny Hayati Ahada, yang punya ide untuk menciptakan tarian khas daerah Tolitoli. Ide itu muncul setelah sekian lama Hayati merenung, memikirkan apa yang pantas ia sumbangkan bagi daerahnya. Lantas terbersit ide, mengapa tidak ia ciptakan tarian “Burung Maleo”, seekor burung yang khas daerah Sulteng.
Ide itu, tentu saja mendapat sambutan dari Ny Ir Nursida Bantilan, isteri Bupati Tolitoli, Drs HM Ma’ruf Bantilan, yang kebetulan sangat “gandrung” pada seni tradisional. Dan ide itu terus meluncur deras yang ditangkap dengan baik oleh Dinas Pariwisata dan Dinas Kebudayaan setempat. Jadilah kemudian tarian “Burung Maleo”, tarian khas Kabupaten Tolitoli yang akhirnya disertakan dalam Porseni tingkat Sulteng.
Tarian “Burung Maleo” jadi penting dan merupakan maskot untuk Kabupaten Tolitoli, karena burung ini memiliki beberapa ke-khasan. Selain bentuk badannya yang besar–sebesar ayam–bulu dan tingkah lakunya berbeda daripada burung pada umumnya.
Menurut keterangan masyarakat Tolitoli, burung Maleo ini biasa hidup di hutan lebat. Namun setiap kali bertelur ia memilih tempat di pinggir pantai dengan cara menanam telurnya di pasir. “Biasanya telur burung itu besarnya sama dengan tujuh kali telur ayam,”
Kelebihan lain dari burung Maleo ini, ia tidak pernah mengerami telurnya. Namun penetasan telur itu dilakukan secara alamiah, yakni dengan bantuan panas matahari. Dan kabarnya, setiap sebulan sekali burung tersebut bertelur,”