Pulau Lingian

Pulau Lingian adalah salah satu pulau kecil terluar yang terletak di Provinsi Sulawesi Tengah. Pulau yang juga biasa disebut sebagai pulau Lingayan ini memiliki ekosistem yang cukup kompleks, terdiri dari ekosistem pantai berbatu, pantai berpasir, terumbu karang, mangrove dan padang lamun. Di pulau ini terdapat titik dasar TD.043 dan titik referensi TR.043.
Untuk mencapai pulau Lingian, perjalanan dimulai dari Kota Palu dengan perjalanan darat ke Desa Ogotua dengan waktu tempuh + 6 jam. Selanjutnya dari desa Ogotua ini bisa dipilih jalur laut. Tidak ada kapal atau perahu yang rutin menuju pulau ini, untuk itu digunakan perahu ketinting bermesin 5,5 PK dengan waktu tempuh + 30 menit. Pada hari Rabu dan Sabtu yang merupakan hari pasar di desa Ogotua, banyak penduduk Pulau Lingian yang datang ke desa ini untuk membeli barang-barang kebutuhan dan menjual hasil-hasil perikanan mereka.
Secara keseluruhan, iklim di Pulau Lingian sama dengan Kabupaten Toli-toli secara umum. Iklim di wilayah ini termasuk tipe A yang tergolong beriklim tropis, dengan temperatur  C, biasanya terjadi° C. Suhu terendah tercatat 25°udara rata-rata 29 pada bulan Januari ? Maret yang tergolong bulan-bulan basah. Suhu tertinggi terjadi pada bulan September ? Desember dimana suhu bisa  C dengan° C. Sedangkan tingkat kelembaban nisbi sekitar 90°mencapai 30 lama penyinaran sekitar 48%. Tingkat curah hujan tahunan di wilayah ini  2302 mm/tahun.±
Secara geologis, Pulau Lingian terbentuk dari batuan aluvium dan endapan pantai (Qal) serta terdapat pula batuan terobosan berupa granit (gr). Masing-masing satuan batuan ini sangat berpengaruh pada bentuk karakteristik pantai di pulau ini. Berdasarkan tipe pantai, unit-unit geomorfologi serta litologi penyusunnya, karakteristik pantai di Pulau Lingian dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) jenis pantai, yaitu: (1) Pantai berbatu; (2) Pantai Berpasir dan (3) Pantai Bermangrove. Tipe pantai berbatu (rock coast) merupakan pantai belum terubah yang terbentuk dari batuan yang memiliki resistensi tinggi yaitu batuan granit dan di beberapa tempat tersingkap pula batuan gamping terumbu. Jenis pantai ini dicirikan oleh garis pantai yang dibatasi oleh batuan baik landai maupun berlereng terjal. Tebing pantai yang terjal mempunyai kemiringan lereng
Pada beberapa sisi pantai pulau Lingian°30 terdiri dari batuan granit. Batuan ini merupakan batuan tertua yang tersingkap di pulau dan merupakan batuan utama yang membentuk pulau, serta membentuk perbukitan rendah di bagian Barat Daya pulau. Batuan granit ini memiliki warna abu-abu kehijauan juga warna lapuk kecoklatan. Secara fisik, batuan ini keras hingga sangat keras dan telah mengalami pengkekaran yang terisi oleh mineral kalsit dan kuarsa. Hasil pelapukan batuan ini menghasilkan pantai berpasir kasar yang berasal dari meneral kuarsa yang dikandung. Pada sisi pulau bagian Selatan memiliki tipe pantai berpasir. Pantai ini  hingga°dicirikan dengan kemiringan pantai yang landai hingga sedang (6 ) dengan material penyusun berupa pasir tidak padu. Lebar paras°10 pantai antara 10-20 meter, sebagian tersingkap pula sebagai pantai kantung berpasir (sandy pocket beach). Pada wilayah pantai yang diapit oleh batuan gamping terumbu, pasirnya berwarna putih berukuran halus hingga sedang yang berasal dari hasil pelapukan batuan ini. Morfologi pesisir berupa daratan pantai yang sempit ditumbuhi vegetasi kelapa, mangrove, pohon berukuran sedang, semak belukar, serta sebagian sisi Selatan hingga Tenggara dimanfaatkan penduduk sebagai lokasi pemukiman. Pada sisi pulau bagian Timur Laut hingga Tenggara ditumbuhi oleh vegetasi mangrove, tetapi di sisi Timur Laut vegetasi mangrove tumbuh cukup rapat dibanding dengan sisi Tenggara. Morfologi yang landai dan terdapatnya vegetasi mengakibatkan wilayah pantai dan sekitarnya mengandung lumpur sehingga tipe pantai ini berpotensi lebih untuk mengalami proses sedimentasi.
Salah satu potensi laut yang dimiliki oleh pulau Lingian adalah ekosistem terumbu karang, yang tersebar di sekeliling perairan pulau. Karang tumbuh membentuk karang tepi yang melingkari pulau. Perkembangan terumbu karang di Pulau Lingian dapat dilihat mengalami pengaruh oseanografi yang lebih kuat dimana terumbu karang terkonsentrasi di sekeliling pulau. Rataan terumbu karang yang  1500 meter dari garis pantai,±terhampar panjangnya hingga mencapai  khususnya pada sisi Barat pulau. Terumbu karangnya memiliki tipe terumbu tepi atau terumbu pantai, dimana karang tumbuh pada kedalaman 1?10 meter. Selanjutnya merupakan hamparan teras pasir halus yang dihuni oleh organisme penggali pasir (infauna) dan lamun (sea grass). Pada keadaan surut terendah, karang-karang di rataan terumbu dan daerah tubir terekspose di udara dan terkena terik matahari langsung sehingga menyebabkan sebagian karang mengalami kematian, walaupun sebagian besar dapat beradaptasi dengan kondisi seperti ini. Dari hasil pengamatan, terumbu karang di sekitar Pulau Lingian memiliki tingkat penutupan karang rata-rata 59 % (HC: 45%, SC: 14%). Pada rataan terumbu karang (reef flate), tingkat penutupan karang hidup (hard coral dan soft coral) mencapai 75% (HC: 55%; SC: 20%). Ini menunjukkan kondisi terumbu karang pada zona reef flate di pulau ini dalam kondisi bagus. Sedangkan terumbu karang pada zona reef edge/reef slope, kondisi tutupan karang mencapai 50% (HC: 40%; SC: 10%) dan didominasi oleh jenis karang acropora dan non-acropora dengan bentuk pertumbuhan (live form) dominan branching dan masif. Ini menunjukkan bahwa kondisi karang di zona reef edge / reef slope di Pulau Lingian berada pada kondisi sedang. Eksistensi terumbu karang di perairan Pulau Lingian telah berasosiasi dengan banyak organisme penting dan bernilai ekonomis tinggi. Berbagai jenis organisme karang yang bernilai ekonomis baik dan untuk dikonsumsi seperti berbagai jenis kima (Tridacna spp), kerang kepala kambing (Cassis cornuta) dan teripang (Holothurian) masih dapat dijumpai. Kima terutama jenis yang berukuran besar seperi kima raksasa (Tridacna gigas), kima air (T. derasa), kima cina (Hippopus porcellanus) dan kima sisik (T. Scuamosa) merupakan species laut yang langka atau terancam punah dan termasuk species yang dilindungi (endangered species IUCN; Apendiks I dan II CITES; UU No. 5 Tahun 1990). Selain itu, beberapa jenis lainnya seperti karang bernilai ekonomis untuk biota hiasan aquarium (aquarium ornament) banyak ditemui di lokasi ini, antara lain Lobophyllia, Goniopora, Pectinia, Euphyllia, Plerogyra dan Physogyra. Tipe pasang surut di perairan Pulau Lingian adalah tipe pasang surut campuran yang cenderung bersifat harian ganda (mixed prevailing semi diurnal). Dalam satu hari terjadi 2 kali air pasang dan 2 kali air surut. Tunggang pasang surut (tidal range) di perairan pulau ini mencapai maksimum 2,1 meter. Pasang surut dengan tipe ini memiliki periode gelombang pasut sekitar 12 jam. Kecepatan arus maksimum di perairan pesisir Pulau Lingian terjadi pada sisi Timur ? Selatan yang berbatasan langsung dengan daratan utama Sulawesi. Besarnya kecepatan arus di sisi pulau ini disebabkan oleh massa air yang bergerak melalui celah/selat antara pulau Lingian dengan daratan utama Sulawesi. Kecepatan arus rata-rata di perairan Pulau Lingian mencapai 0,653 meter/detik dengan arah arus dominan ke arah Barat Daya dengan kisaran sudut 200o-260o. Pola arus di perairan ini dipengaruhi juga oleh pola arus utama di perairan Laut Sulawesi. Sebagaimana diketahui bahwa Laut Sulawesi merupakan salah satu perairan Arus Lintas Indonesia (ARLINDO), dimana arus yang bergerak melintasi perairan Indonesia sebagai akibat perbedaan tinggi muka laut antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Arus ini berasal dari Samudera Pasifik dan kecepatan arusnya sangat dipengaruhi oleh sistem arus ekuatorial sebagai akibat dari hembusan angin Pasat Timur Laut di Samudera Pasifik.