Updates from Januari, 2010 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Chandra Alam 6:57 pm pada 20 January 2010 Permalink
    Tags:   

    Sebuah masjid berlantai dua dilengkapi lima kubah hijau di atasnya berdiri kokoh di Kawasan Malosong, sebuah kompleks perkampungan orang keturunan Tionghoa di Kelurahan Baru.Namanya masjid Jami, salah satu masjid tertua di Tolitoli, Sulawesi Tengah. Masjid ini merupakan salah satu sejarah peradaban umat Islam di daerah bekas kesultanan Ternate itu. Masjid dengan luas bangunan 35 x 45 meter persegi itu telah bersentuhan dengan bahan bangunan impor dari Singapura sekitar tahun 1936. Berlantai marmer yang didatangkan dari Singapura oleh saudagar kopra dari Tolitoli. Awalnya masjid ini hanya berukuran 11 x 13 meter, tapi sudah berlantai marmer yang dibeli dari Singapura oleh orang-orang tua kami dulu.Awalnya masjid itu berbentuk langgar yang terbuat dari papan kayu dibangun tahun 1926. Lokasinya sekitar 200 meter di bibir pantai Susumbolan, sebuah kawasan pasar terpadu dalam kota yang di dalamnya terdapat pasar, terminal, tempat pendaratan ikan, panggung hiburan seni bahkan kawasan kuliner. Tempat ini menjadi pemandangan menarik. Tempo dulu hampir seluruh kawasan yang mencakup empat kelurahan disebut dengan Kampung Baru. Di sinilah awalnya masjid dibangun dalam bentuk langgar sekitar tahun 1926. Dari sejarah itulah katanya bisa dipastikan bahwa Masjid Jami merupakan salah satu masjid tertua di daerah produsen cengkeh tersebut. Islam sudah masuk di Tolitoli dan tersebar sekitar abad ke-18 M. Salah satu bukti yang menguatkan adalah adanya sebuah Alquran yang ditulis tangan oleh guru Kannu tahun 1212 hijriah.
    “Guru Kannu adalah guru mengaji dari Tanimbar Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Dia menitipkan Alquran itu melalui Nahkoda Gantele,”
    Gantele konon kabarnya adalah seorang nahkoda kapal dari Bone pindah ke Tolitoli. Ia mendarat di Kalangkangan, sebuah desa sekitar enam kilomter arah utara Tolitoli. Gantele bersama pasukannya kemudian masuk ke Kampung Baru (sekarang menjadi lokasi masjid Jami dan sekitarnya) dan berhasil memukul mundur orang-orang Mindanau, Filipina, yang menguasai Kampung Baru ketika itu.“Dari Gantele dan pasukannya akhirnya kemudian berkembang hingga sekarang. Itulah sebabnya di lokasi sekitar masjid Jami didominasi suku Bugis,” kata Husen.
    Nama masjid Jami sebetulnya sudah beberapa kali mengalami perubahan nama. Menurut Ketua Ta`mir Masjid Jami, Hasan Patongai, pertama kali masjid itu disebut masjid Kampung Baru. Kemudian berubah menjadi Masjid Taqwa.
    Tidak bertahan dengan nama Masjid ini, lalu berubah lagi menjadi Masjid Raya. Karena ada aturan nama Masjid Raya hanya digunakan untuk masjid tingkat kabupaten, maka sejak saat itulah namanya berubah menjadi Masjid Jami.
    Agar masjid ini terurus dengan baik, tahun 1984 s/d November 1986 dibentuklah Yayasan Masjid Jami. Abd Rahman Said, salah satu tokoh pendiri yayasan, sekaligus sebagai ketua yayasan pertama.
    Masjid Jami yang sekarang tampak megah bukan lagi desain asli Masjid Jami tempo dulu. Masjid Jami hari ini sudah mendapat sentuhan teknologi modern dengan pemugaran total yang pembangunannya dilakukan sejak tahun 1987.
    Marmer yang merupakan buah karya dari imam Masjid pertama kini sudah tidak tampak lagi. Marmer itu ditimbun lalu dijadikan lokasi parkir.
    Beberapa bangunan seperti menara tempat muadzin mengumandangkan adzan juga tidak ada lagi.
    Salah satu tempat yang dinilai masih memiliki nilai sejarah hanyalah sebuah sumur kecil, terletak di samping masjid. Tidak ada juga bukti-bukti sejarah kapan sumur itu dibangun.
    Tetapi menurut Husen, pada tahun 1982 dimana Tolitoli ketika itu terjadi musim kemarau, sumur ini justru airnya meluap. Sumur ini dianggap memiliki nilai sejarah maka dilestarikan hingga saat ini.
    “Sumur ini dulunya pernah ditutup tetapi dibuka kembali. Orang-orang keturunan Tionghoa yang ada di sekitar lokasi masjid tidak rela jika sumur itu ditutup karena dulu mereka mengambil air dari sumur itu,” kata Hasan Patongai.
    Siapakah imam pertama di masjid tertua itu? Tidak ada juga bukti-bukti tertulis. Tapi masih banyak diantara pendiri yayasan yang mengingatnya. H Lahuseng adalah imam pertama ( 1936-1957), menyusul H Hamzah (1957-1962), H Ahmad Mahmuda (1962-1964), H Abdullah Mahmuda (1964-1970), H Abdullah Nusu (1970-1975), KH. Hasan Tahir (1975-1980), Moh H Kasim (1980-1982), KH Moh Tahir (1982), Usman H Abu (1983-1984), H Abdul Hakim Bandi (1984), H Firdaus M Husen (1988 s/d 2006), Muhdar M Amir, S.Pdi (2007-2008) dan Moh Sabran (2008 s/d sekarang).
    Dari 12 imam masjid Jami tersebut alm. H Firdaus M Husen paling lama, terhitung sejak 1988 s/d 2006. Almarhum meninggal dunia bulan Ramadhan 1927 H lalu.
    Dulu yang menunjuk imam masjid disebut dengan Kadi. Kadi adalah pakar hukum agama. Kadi pertama kali di Tolitoli ketika itu bernama H. Mahmuda.
    Kadi mempunyai peran penting, tidak saja menunjuk imam, tapi juga menentukan kapan dimulainya puasa dan lebaran. Ketika seorang Kadi misalnya, menetapkan lebaran hari raya Idul Fitri jatuh pada hari Sabtu, maka seluruh kewedanaan Tolitoli mengikutinya.
     
  • Chandra Alam 7:23 am pada 19 January 2010 Permalink  

    Peta Kabupaten Tolitoli setelah pemekaran : (klik petanya untuk memperjelas)

    Luas Wilayah, Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Desa,
    di Kecamatan Baolan Tahun 2008

    D e s a Luas (Km2) Penduduk Kepadatan Penduduk/Km2
    001.  Dadakitan 157,03 3.111 20
    002.  Tuweley 28,00 8.785 314
    003.   Panasakan 13,00 9.368 721
    004.  Sidoarjo 4,00 4.594 1.149
    005.  Baru 7,00 18.890 2.699
    006.  Nalu 16,00 6.400 400
    007. Tambun 25,50 3.690 145
    008. Buntuna 7,50 2.152 287
    J u m l a h 258,03 56.990 221

    Luas Wilayah, Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Desa,
    di Kecamatan Galang Tahun 2008

    D e s a Luas (Km2) Penduduk Kepadatan Penduduk/Km2
    001.   Ogomoli 28,00 1.312 97
    002.   Sandana 3,00 939 635
    003.   Kalangkangan 4,00 1.857 934
    004.   Lantapan 6,00 562 187
    005.   Lakatan 209,62 2.190 21
    006.   Tinigi 185,82 2.693 29
    007.   Ginunggung 6,00 1.024 346
    008.   Lalos 6,00 1.316 441
    009.   Tende 12,00 819 136
    010.   Sabang 6,00 609 198
    011.   Bajugan 131,32 2.031 32
    J u m l a h 597,76 30.991 52

    Luas Wilayah, Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Desa,
    di Kecamatan Tolitoli Utara Tahun 2008

    D e s a Luas (Km2) Penduduk Kepadatan Penduduk/Km2
    001.   Santigi 66,0 1.360 21
    002.   Laulalang 62,0 2.999 48
    003.   Salumpaga 56,0 3.520 63
    004.   Diule 28,1 1.116 40
    005.   Pinjan 103,4 1.422 14
    006.   Binontoan 60,0 3.382 56
    007.   Lakuan Tolitoli 30,0 1.600 53
    J u m l a h 405,5 15.399 38

    Luas Wilayah, Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Desa,
    di Kecamatan Dako Pamean Tahun 2008

    D e s a Luas (Km2) Penduduk Kepadatan Penduduk/Km2
    001.   Galumpang 50 2.366 47
    002.   Dungingis 52 1.991 38
    003.   K a p a s 42 1.165 28
    004.   Lingadan 77 2.172 28
    J u m l a h 221 7.694 35

    Luas Wilayah, Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Desa,
    di Kecamatan Ogodeide Tahun 2008

    D e s a Luas (Km2) Penduduk Kepadatan Penduduk/Km2
    001.   Buga 64,09 981 15
    002.   Batuilo 80,12 856 11
    003.   Bambalaga 7,00 421 60
    004.   Kamalu 67,77 1.415 21
    005.   Muara Besar 42,73 1.012 24
    006.   Bilo 53,41 598 11
    007.   Pagaitan 5,00 1.327 265
    008.  Labuan Lobo 30,00 1.150 38
    009.  Sambujan 20,00 747 37
    010.  Pulias 35,00 1.413 40
    011.  Kabetan 7,00 831 119
    J u m l a h 412,12 10.751 26

    Luas Wilayah, Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Desa,
    di Kecamatan Lampasio Tahun 2008

    D e s a Luas (Km2) Penduduk Kepadatan Penduduk/Km2
    001. Janja 195,00 1.545 8
    002. Maibua I 6,00 650 109
    003.  Sibea 58,00 1.304 22
    004. Muliasari 7,00 606 87
    005.  Oyom 146,00 2.123 15
    006.  Salugan 68,00 1.026 15
    007.  Lampasio 114,00 3.635 32
    008.  Tinading 32,00 2.126 66
    J u m l a h 626,00 13.015 21

    Luas Wilayah, Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Desa,
    di Kecamatan Dondo Tahun 2008

    D e s a Luas (Km2) Penduduk Kepadatan Penduduk/Km2
    2 3 4
    Luok Manipi 16,02 1.247 78
    Salumbia 25,64 2.934 114
    Bambapun 128,18 1.550 13
    Ogowele 85,46 1.779 21
    Lais 6,41 1.335 208
    Ogogasang 5,34 496 93
    Malomba 87,31 2.383 27
    Ogogili 32,05 928 29
    Tinabogan 8,55 2.524 295
    Malulu 16,02 1.191 74
    Malala 133,52 3.302 25
    Anggasan 1.143
    J u m l a h 542,50 20.917 38

    Luas Wilayah, Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Desa,
    di Kecamatan Dampal Utara, 2008

    D e s a Luas (Km2) Penduduk Kepadatan Penduduk/Km2
    Kabinuang 13,00 923 71
    Ogotua 38,20 3.837 100
    Bambapula 29,00 2.773 96
    Malambigu 12,00 367 31
    Tompoh 17,00 1.467 86
    Banagan 41,68 2.278 55
    Simatang Tanjung 10,00 1.095 110
    Simatang Utara 11,00 795 72
    S e s e 11,00 806 73
    J u m l a h 182,88 14.341 78

    Luas Wilayah, Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Desa,
    di Kecamatan Basidondo Tahun 2008

    D e s a Luas (Km2) Penduduk Kepadatan Penduduk/Km2
    1.  Labonu 16,02 1.104 68
    2.  Sibaluton 48,07 3.641 76
    3.  Kayulompa 170,91 2.886 17
    4. Konkomos ….. 1.640 ….
    5.  Silondou 186,96 2.011 11
    6. Ogosipat 14,34 826 58
    7.  Kinapasan 5,00 473 95
    J u m l a h 441,30 12.581 29

    Luas Wilayah, Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Desa,
    di Kecamatan Dampal Selatan Tahun 2008

    D e s a Luas (Km2) Penduduk Kepadatan Penduduk/Km2
    Kombo 75,50 2.937 31
    Tampiala 77,20 3.220 42
    Soni 53,30 5.117 96
    Bangkir 89,50 5.870 66
    Dongko 48,07 1.482 31
    Mimbala 49,10 1.531 31
    J u m l a h 392,67 20.157 51

    Sumber data (badan pusat statistik kabupaten tolitoli)

     
  • Chandra Alam 7:08 am pada 19 January 2010 Permalink  

    Indonesia kini sedang mempersiapkan sensus penduduk modern yang keenam yang akan diselenggarakan pada tahun 2010. Sensus-sensus penduduk sebelumnya diselenggarakan pada tahun-tahun 1961, 1971, 1980, 1990 dan 2000.

    Menurut Sensus Penduduk 2000, penduduk Indonesia berjumlah sekitar 205.1 juta jiwa, menempatkan Indonesia sebagai negara ke-empat terbesar setelah Cina, India dan Amerika Serikat. Sekitar 121 juta atau 60.1 persen di antaranya tinggal di pulau Jawa, pulau yang paling padat penduduknya dengan tingkat kepadatan 103 jiwa per kilometer per segi. Penduduk Indonesia tahun 2010 diperkirakan sekitar 234.2 juta.

    Dalam Sensus Penduduk 2010 (SP2010) yang akan datang diperkirakan akan dicacah penduduk yang bertempat tinggal di sekitar 65 juta rumahtangga. Untuk keperluan pencacahan ini akan dipekerjakan sekitar 600 ribu pencacah yang diharapkan berasal dari wilayah setempat sehingga mengenali wilayah kerjanya secara baik. Pencacah dilatih secara intensif selama tiga hari sebelum diterjunkan ke lapangan.

    Dalam SP2010 akan diajukan sekitar 40 pertanyaan mengenai: kondisi dan fasilitas perumahan dan bangunan tempat tinggal, karakteristik rumahtangga dan keterangan individu anggota rumahtangga. Format dan isi daftar pertanyaan atau Kuesioner SP2010 disusun dengan mempertimbangkan rekomendasi PBB yang relevan serta dapat diterapkan di lapangan.

    Puncak kegiatan SP2010 berupa kegiatan pencacahan penduduk di semua wilayah geografis Indonesia secara serempak selama bulan Mei 2010 (Bulan Sensus). Pada 31 Mei 2010 akan dilakukan pembaharuan hasil pencacahan secara serempak dengan mencatat kejadian kelahiran, kematian dan perpindahan penduduk yang terjadi selama Bulan Sensus dan menyisir serta mencatat penduduk yang tidak bertempat tinggal tetap (homeless). Tanggal 31 Mei 2010 merupakan Hari Sensus artinya data SP2010 yang dihasilkan merujuk pada hari sensus tersebut.

    Data SP2010 diharapkan dapat digunakan untuk berbagai keperluan yang antara lain mencakup:

    1. memperbaharui data dasar kependudukan sampai ke wilayah unit administrasi terkecil (desa)

    2. mengevaluasi kinerja pencapaian sasaran pembangunan milenium (Milenium Development Goal, MDGs),

    3. menyiapkan basis pengembangan statistik wilayah kecil,

    4. menyiapkan data dasar untuk keperluan proyeksi penduduk setelah tahun 2010,

    5. mengembangkan kerangka sampel untuk keperluan survei-survei selama kurun 2010-2020,

    6. basis pembangunan registrasi penduduk dan pengembangan sistem administrasi kependudukan.


    Jadwal Kegiatan Pokok Sensus Penduduk 2010

    Tahun Kegiatan Utama Catatan
    2008
    • Pembuatan peta dasar (desa/kecamatan)
    • Penyusunan dan uji coba kuesioner SP2010
    Peta dasar, paling tidak sebagian,  diharapkan sudah ber-georeference berdasarkan citra satelit
    2009
    • Pembuatan sketsa peta blok sensus (BS) berdasarkan peta dasar
    • Gladi bersih SP2010
    BS adalah unit wilayah kerja pencacah terkecil yang memuat sekitar 100 rumahtangga. Sketsa BS merupakan kelengkapan utama pencacah dalam menjalankan tugasnya
    2010
    • Pencetakan dan distribusi dokumen SP2010
    • Pelatihan petugas lapangan
    • Pencacahan
    • Diseminasi angka sementara SP2010 (pertengahan Agustus)
    • Pengolahan dokumen SP2010
    Pengolahan data, dengan memanfaatkan teknologi scanner,  akan dilakukan di 34 pusat pengolahan (33 propinsi dan 1 pusat)
    2011
    • Data cleaning dan tabulasi data SP2010
    • Diseminasi hasil final SP2010 (Juli 2011)
    • Penyiapan database penduduk untuk keperluan pembangunan registrasi penduduk dan Nomor Induk Kependudukan (NIK)
    • Analisis data
    2012
    • Analisis data (lanjutan)
    • Pengembangan kerangka sampel untuk survei rumahtangga selama dekade 2010-2020
    • Proyeksi penduduk, usia sekolah dan angkatan kerja
    Sumber data (Badan Pusat Statistik Kabupaten Tolitoli)

     
  • Chandra Alam 6:59 am pada 19 January 2010 Permalink  

    Daftar Para Bupati Yang Pernah Memimpin Kabupaten ToliToli.Daftar Ini Mulai dari Sewaktu Tolitoli masih bersatu dengan Buol yang bernama Kabupaten Buol-Tolitoli ,sampai Terjadi pemekaran.
    Inilah Daftarnya :
    Daftar Bupati Buol Tolitoli (sebelum pemekaran):
    1. H. Rajawali Muhammad Pusadan (19641970)
    2. H. Moh. Kasim Razak (19701975)
    3. Kolonel (Inf.) Eddy Soeroso (19751985)
    4. Kolonel (Inf.) M. Sulaiman (19851989)
    5. Kolonel (Inf.) Dede Hatta Permana (19891994)
    6. Kolonel (Inf.) H. Gumyadi, SH (19941999)
    Daftar Bupati Tolitoli (setelah pemekaran Kabupaten Buol):
    1. Kolonel (Inf.) H. Gumyadi, SH (Januari 1999- 11 Desember 1999)
    2. Drs. H. Moh. Ma’ruf Bantilan, MM ([[11 Desember 199911Desember 2004)
    3. Drs. H. M. Syahril Alatas, SH, MH (Penjabat Bupati) (12 Desember20044 September 2005)
    4. Drs. H. Moh. Ma’ruf Bantilan, MM (4 September 20054 September2010)
    Tahun 2010 ini Kabupaten Tolitoli – KPU Kab. Tolitoli periode 2007-2012   tengah  mempersiapkan Pemilihan Bupati & Wakil Bupati 2010
    Sususunan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Tolitoli periode 2007-2012   adalah :
    1. Ketua (merangkap anggota) : Alfian Masyhur, SH
    2. Sekretaris : Burhanuddin, S.Sos
    3. Anggota  : H. Mahmud Nasir, SH
    4. Anggota  : Hj. Asmiarty Rum Nawawi, Sm.Hk
    5. Anggota  : Joel Mulait, SH
    6. Anggota  : Hambali
    7. Kasubag. Program : Syaifuddin, BA
    8. Kasubag. Tehnis Pemilu : Bustanil H. Bantilan, SE, M.Si
    9. Kasubag. Hukum : Musafir, SH
    10. Kasubag. Umum : Burhanuddin, S.Sos
    sumber Data (wikipidia)

     
  • Chandra Alam 6:08 pm pada 16 January 2010 Permalink  

    Bahasa Totoli adalah salah satu bahasa yang ada di Sulawesi tengah.Dari penelitian-penelitian para pakar ahli bahasa,bahasa Totoli  tergolong pada bahasa yang terancam punah.Bahasa Totoli adanya di pakai masyarakat di kabupaten tolitoli dan Di kabupaten Tolitoli sendiri tinggal segelintir orang(masyarakat )yang mempergunakan bahasa ini, kurang lebih hanya sekitar 5000 orang yang mempergunakan bahasa ini.
    Bahasa Totoli  adalah bahasa yang  di tuturkan di seputaran Teluk  Tomini dan Kabupaten  Tolitoli  (Sulawesi Tengah),sehingga bahasa Totoli  masuk  grup Bahasa Tomini-Tolitoli. Tapi dari  hasil penelitian yang ada di katakan bahwa belum jelas apakah bahasa-bahasa ini benar-benar membentuk sebuah kelompok genetik atau hanya secara geografis terkait.”
    Bahasa Totoli adalah bahasa yang sangat unik sekali,disebabkan  bahasa ini  jauh berbeda dari bahasa-bahasa lain.Kalau di lihat  Dari Fonologinya , maka kosa katanya  serta  tata bahasanya  sangatlah  berbeda sekali dengan kelompok bahasa lainnya. Dari Fonologi inilah  terlihat jelas perbedaannya misalkan  sering terjadinya geminata dan toleransi suku kata tertutup”.
    Kalau di lihat dari Gramatikalnya maka bahasa Totoli   memiliki suara yang unik. Fitur sistem suara dengan ciri khas jenis sistem aplikasi di Indonesia dan setengah dari Sulawesi selatan dan juga sistem yang diterapkan bines com ¬ Filipina. Walaupun sistem ini jauh dari yang dipahami,Tapi menurut penelitian pakar bahasa menyatakan bahwa bahasa Totoli memainkan peran kunci dalam memahami perubahan dalam tipe Filipina sistem untuk jenis sistem suara simetris ditemukan dalam banyak bahasa Barat Indonesia ¬ Ern.
    Silahkan lihat diagram Rumpun bahasa Totoli yang di pakai di kabupaten Tolitoli :
    klik gambar untuk memperjelas

    sumber : http://www.mpi.nl/DOBES/projects/totoli
    ——————————————————————————————————————–
    ———————————————————————————————————————
    Sumber data :Adriani, Nicolaus and Albertus C. Kruyt, 1914, De Bare’e-sprekende Toradja’s van Midden Celebes. Vol. III. Batavia: Landsdrukkerij Barr, Donald F., Sharon G. Barr (in cooperation with C. Salombe), 1979, Languages of Central Sulawesi: Checklists, Preliminary Classification, Language Maps, Word Lists. Ujung Pandang: Hasanuddin University. Blust, Robert, 1991, The Greater Central Philippines Hypothesis. In Oceanic Linguistics 30/1: 73-129. Himmelmann, Nikolaus P., 1991, Tomini-Tolitoli Sound Structures. In James N. Sneddon, ed., Studies in Sulawesi Languages, Part II. Himmelmann, Nikolaus P., 1996, Person Marking and Grammatical Relations in Sulawesi. In Hein Steinhauer, ed., Papers in Austronesian linguistics No. 3, 115-136. Canberra: Pacific Linguistics. Himmelmann, Nikolaus P., 2001, Sourcebook on Tomini-Tolitoli Languages. General Information and Word Lists. Canberra: Pacific Linguistics. Inghuong, A. Sofyan, Arfah Adnan, Zohra Mahmud and Masyhuddin Masyhuda, 1983, Struktur Bahasa Totoli. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Inghuong, A. Sofyan, Arfah Adnan, Abdul Gani Hali, Idrus Halim and Nooral Baso, 1985/86b, Morfologi dan Sintaksis Bahasa Totoli. Palu: Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Sulawesi Tengah. Inghuong, A. Sofyan, Ahmad Sarro, Hasan Basri and Dahlan Kajia, 1986/87, Fonologi, morfologi, sintaksis bahasa Bolano. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Kaseng, Syahruddin, Masyhuddin Masyhuda, Abdul Muthalib, Indra B. Wumbu, Amir W. Lumentut, Amir Kadir, Abdul Latif Rozali, 1979, Bahasa-bahasa di Sulawesi Tengah. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Lembaga Bahasa Nasional, 1972, Peta Bahasa-bahasa di Indonesia, Jakarta (= BdK Seri khusus no. 10/1972). Li, Tania (in cooperation with Sulaiman Mamar), 1991, Culture, Ecology and Livelihood in the Tinombo Region of Central Sulawesi. Jakarta and Halifax: Enviromental Management Development in Indonesia Project. Masyhuda, Masyhuddin, 1975/81, Bahasa-bahasa Tomini-Tolitoli. Palu: Yayasan Kebudayaan. Masyhuda, Masyhuddin, 1977, Monografi Daerah Sulawesi Tengah. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan. Noorduyn, J., 1991, A Critical Survey of Studies on the Languages of Sulawesi. Leiden: KITLV Press (=KITLV Bibliographical Series 18). Stockhoff, W. A. L., ed., 1983, Hollo Lists: Vocabularies in Languages of Indonesia Vol. 7/1: North Sulawesi. Canberra: Pacific Linguistics. Wumbu, Indra B., Amir Kadir, Nooral Baso and Sy. Maranua, 1986, Inventarisasi Bahasa Daerah di Propinsi Sulawesi Tengah. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Wolff, John U. 1996, The Development of the Passive Verb with Pronominal Prefix in Western Austronesian languages. In Bernd Nothofer, ed., Reconstruction, Classification, Description — Festschrift in Honor of Isidore Dyen. Hamburg: Abera-Verlag.

    Sumber  :  http://www.mpi.nl/DOBES/projects/totoli

     
  • Chandra Alam 1:55 pm pada 15 January 2010 Permalink
    Tags:   

    Tolitoli merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah yang beribukota di Baolan, secara geografis terletak di 0,35o- 1,20o LU dan antara 120,12o- 121o10 42 BT, daerah ini berbatasan dengan Kabupaten Buol dan Laut Sulawesi di utara, Kabupaten Donggala di selatan, Selat Makasar di barat, Kabupaten Buol di timur. Luas wilayah daerah ini adalah 4.079,76 Km2.
    Kabupaten Tolitoli terletak pada ketinggian 0 – 2.500 meter dari permukaan laut, dengan keadaan topografi datar hingga pegunungan sedang dataran rendah yang umumnya tersebar disekitar pantai dan letaknya bervariasi.maka IKLIM DAN TOPOGRAPI  masuk pada kategori wilayah tropis dan memiliki suhu udara rata-rata 22,4-3,7 0C dengan kelembaban udara pada kisaran 82-86%. Curah hujan pertahun 1.760,6 mm dengan rata-rata 142 hari/tahun.Kecepatan angin berada pada kisaran 10-15 knot.
    Dari hasil perhitungan luas peta ketinggian, ternyata 100 – 500 meter dari permukaan laut yang paling luas yaitu 192.748 Ha (47,24%) dan tersebar di seluruh kecamatan. Sedangkan yang paling kecil adalah ketinggian >1.000 meter dari permukaan laut yaitu 16.887 Ha (4,14%). Untuk luas kelas lereng tanah, kemiringan 15 – 40% sebesar 43,35% dan kemiringan 0 – 2% sebesar 13,73%.
    Komoditi unggulan yang dihasilkan berupa cengkeh, kelapa, kopi robusta, kopi arabika, , lada, dan jambu mete. Untuk kegiatan pertanian didaerah ini bahan makanan masih menjadi andalan yang utama berupa padi, tanaman holtikultura, dan palawija. Kabupaten tolitoli dikenal dengan penghasil cengkeh terbesar di Provinsi Sulawesi tengah. Semua produk tersebut juga sangat tergantung dari kelancaran distribusi barang dan jasa melalui Pelabuhan Dede. Dilihat dari lokasinya, pelabuhan itu sebenarnya cukup strategis terutama untuk pasar ke Kalimantan seperti Kota Tarakan dan Kota Balikpapan.
    Luas lahan cengkeh di Tolitoli 24.794 Ha, yang terdiri dari 23.299 Ha, tanaman muda menghasilkan, dan 1.495 Ha, tanaman tua / rusak, tetapi masih menghasilkan,sedangkan tanaman cengkeh muda yang belum mulai menghasilkan 102 Ha.Cengkeh tolitoli tergolong berkwalitas bagus, maka pengembangan perkebunan cengkeh merupakan kebijakan yang akan menguntungkan masyarakat petanicengkeh dan Pemda Tolitoli. Sebagai penghasil cengkeh terbesar, Kabupaten Tolitoli layak di acungi jempol.Dalam lima tahun terakhir angkanya terus meningkat. Tahun 2002 dihasilkan 6.328 Ton, Tahun 2003 dihasilkan 1582 Ton, Lalu Tahun 2004 dihasilkan sekitar 1.604 Ton. Tahun 2005 sebanyak 2.245 Ton dan 2006 tetap tinggi yakni 2.133 Ton.Baolan, Galang dan Tolitoli Utara adalah penghasil utama tanaman cengkeh ini.Selama lima tahun (2002-2006) hasilnyapun termasuk nomor satu dengan hasil rata-rata 2.380 Ton. Janis cengkeh yang paling banyak ditanam adalah zanzibar,seputih dan sikotok. Rata-rata produksi tertinggi sampai mencapai 8.000 Ton bahkan lebih. Dari kaki Panasakan samapai ke kaki Gunung Tuweley sekitar 28.000 hektar, terhampar perkebunan cengkeh.
    Sedangkan untuk perkebunan kelapa sebanyak 13.000 hektar.Disamping cengkeh, kakao juga termasuk hasil perkebunan yang cukup signifikan,bila harga cengkeh sedang turun, yang ditanam secara tumpang sari bersama kelapa.Produksi total rata-rata kakao untuk Kabupaten Tolitoli hampir 8.000 Ton setahun.Dengan hasil terbaik di Tahun 2008 sebanyak 8.527 Ton.Kelapa banyak dihasilkan dikecamatan Dampal Utara dan Dampal Selatan, sedangkan Kakao di Kecamatan Baolan.Kopi, lada, jambu mente dan pala juga bisa menjadi andalan Kabupaten Tolitoli.Komoditas pertanian mendominasi perekonomian Tolitoli, tahun 2003 konstribusi hampir 23% dari nilai total kegiatan ekonomi Rp. 745 milyar. Sementara pendapatan perkapita penduduk tahun 2000 tercatat Rp. 3,5 Juta sedangkan Provinsi Rp. 3,9 Juta.Produksi padi hingga Oktober 2002 yang dihasilkan 26.650 Ton. Daerah penghasil utama Padi adalah Dampal Selatan, Dondo, Baolan dan Galang.
    Kabupaten tolitoli juga mempunyai beberapa obyek wisata diantaranya :
    1. Pantai Lalos, Batu Bangga, Kec. Galang
    2. Pantai Tende dan Pantai Sabang Desa Tende Kecamatan Galang
    3. Pantai Taragusung-Pulau Dolangan Desa Santigi Kecamatan Tolitoli Utara.
    4. Pantai Dermaga Batu di Tolitoli Utara
    5. Konservasi Burung Maleo, di Pantai tj. Matop, Pantai Pinjan
    Desa Salumpaga Kec. Tolitoli Utara
    6. Pulau Telur, Pulau Lingayan : Pemandangan Bawah Air
    7. Air Terjun Kolasi Desa Bambapun Kecamatan Dampal Utara
    8. Air Terjun Sigelan Desa Oyom Kec. Lampasi
    9. Rumah Adat Balai Masigi, Desa Tambun Kecamatan Baolan
    10.Makam Raja Tolitoli di Pulau Lutungan
    Dengan letak geografis yang sangat strategis yaitu berada diselat Makassar,salah satu dari tujuan selat strategi didunia, hubungan langsung dengan dunia internasional mendorong pemerintah untuk terus mengembangkan potensi daya tarik investasi didaerah Tolitoli.Seperti tertera di rencana strategis pengembangan daerah, Maka Tolitoli di usahakan dapat berdiri sebagai kabupaten mandiri dan sejahtera bertumpu pada pertanian, perkebunan, industri, perikanan dan perdagangan.
    Di Kabupaten Tolitoli terdapat setidaknya tiga pulau terluar yakni Lingian, Salando, dan Dolangan. Letak geografis pulau-pulau ini berada di perbatasan wilayah Malaysia dan Filipina, atau sangat dekat dengan Pulau Sipadan dan Ligitan yang sudah beralih ke tangan Malaysia.
    Pulau Dolangan dan Pulau Salando tidak berpenghuni, namun selama ini dijadikan tempat beristirahat bagi para nelayan tradisional asal Tolitoli ketika berhari-hari menangkap ikan. Sedangkan di Pulau Lingian yang agak besar dan datar terdapat 54 kepala keluarga (226 jiwa) penduduk Tolitoli menetap dan membangun pemukiman darurat. Pekerjaan mereka umumnya selain menangkap ikan, juga menjaga kebun kelapa yang ditanami sejak beberapa tahun lalu.
    Pemkab Tolitoli sebelumnya berencana menjadikan Pulau Dolangan dan Pulau Salando sebagai kawasan konservasi hutan Mangrove, Burung Maleo, dan terumbu karang. Sementara Pulau Lingian akan dikembangkan menjadi kawasan nelayan dengan melakukan penataan lingkungan dan pemukiman, yaitu disesuaikan dengan pekerjaan tetap penduduk setempat.
    Untuk melindungi ketiga pulau terluar itu dari klaim negara lain, Pemkab Tolitoli sebelumnya telah mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk membangun jalan desa, dermaga, sekolah dasar, rehabilitasi Puskesmas Pembantu, serta penyediaan sarana air bersih hingga telekomunikasi.
    Untuk mempertahankan yuridiksi teritorial Indonesia dari berbagai ancaman, TNI Angkatan Laut terus mengintensifkan pengawasan keamanan atas semua pulau terluar yang ada di wilayah Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah (Sulteng).Untuk itu beberapa personil TNI-AL selalu melakukan patroli secara intensif. Dari hasil pengawasan mobile tersebut, belum di temukan adanya tanda-tanda bahwa pulau-pulau itu pernah disinggahi oleh orang asing.
    (Sumber Data : Bappeda tolitoli,Badan statistik  tolitoli dan Sulawesi tengah,Badan Pertahanan Nasional,Antara)
     
  • Chandra Alam 7:02 am pada 12 January 2010 Permalink
    Tags:   

    Lambang Kabupaten Toli-Toli.jpg
    Lambang Kabupaten Tolitoli
    Arti Lambang Kabupaten Tolitoli       :
    • - BENTUK PRISAI JANTUNG: Kepahlawanan dan Patriotisme Persatuan
    • - BINTANG: Ketuhanan yang Maha Esa
    • - POHON KELAPA: Pohon Serbaguna yang menjadi perekonomian masyarakat
    sejak dulu dan sekarang
    • - 5 BIJI POHON KELAPA DAN 5 PELEPAH: Mewujudkan dan mengamalkan Pancasila
    sebagai Falsafah Negara
    • - LINGKARAN PUTIH: Menggambarkan kasih sayang dan persaudaran yang tulus
    antara penduduk yang berdomisili didaerah ini
    • - PADI DAN KAPAS: Sandang dan Pangan atau lambang kesejahteraan dan kemakmuran
    • - DUA BUAH CENGKEH:Gambaran doa dan pengharapan yang artinya hubungan antara
    seorang hamba dengan Tuhannya sekaligus cengkeh adalah salah satu komoditi
    andalan yang banyak diusahankan masyarakat Kabupaten Tolitoli.
    • - RUMAH ADAT TOLITOLI DAN PINTU ADAT BAMBU KUNING: Rumah adat Tolitoli dan Pintu
    adat bambu kuning
    • - DUA EKOR LUMBA-LUMBA: Sifat masyarakat Tolitoli yang ramah dan bergotong royong
    • - TIGA RIAK AIR: Menggambarkan masa lalu, masa kini dan masa akan datang.
    Masa lalu adalah kisah lagenda tiga anak manusia atau totolu yang merupakan
    cikal bakal lahirnya manusia pertama tolitoli dan berdirinya daerah ini.
    Masa kini adalah kehiudpan dalam reformasi, transparansi dan demokrasi.
    Masa datang adalah regenerasi dalam kehidupan dan penerus serta penentu kemajuan
    daerah ini berakal dari masa lalu.
    • - GARIS LINTANG: Ikatan batin dengan daerah-daerah lain di Sulawesi Tengah
    (Sumber Data : Bappeda Tolitoli,Wikipidia)
     
  • Chandra Alam 7:17 pm pada 10 January 2010 Permalink
    Tags:   

    Kabupaten tolitoli adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Tengah, Indonesia.
    Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Tolitoli. Kabupaten ini memiliki luas
    wilayah 4.079.6 Km2 dan berpenduduk sebesar 210.000 Jiwa (2008).
    Kabupaten Tolitoli sebelumnya bernama Kabupaten Buol Tolitoli, Namun pada tahun 2000
    berdasarkan Undang-undang No.51 Tahun 1999 kemudian Kabupaten Tolitoli dimekarkan
    menjadi yaitu Kabupaten Tolitoli sebagai Kabupaten Induk dan Kabupaten Buol sebagai kabupaten hasil pemekaran.
    Nama Daerah                         : Kabupaten Tolitoli
    Ibu Kota                                    : Tolitoli
    Provinsi                                    : Sulawesi Tengah
    Luas Wilayah                          : 4.079.76 Km2
    Jumlah Penduduk: 210.000 Jiwa ( Data Kependudukan Kantor Catan Sipil 2008)
    WILAYAH TOLITOLI DAN PENDUDUK
    Wilayah Tolitoli meliputi Kecamatan:
    Dampal Selatan                     : 18,005 Jiwa
    Dampal Utara                         : 13,553 Jiwa
    Dondo                                         : 22, 406 Jiwa
    Basidondo                                 : 10,117 Jiwa
    Ogodeide                                   : 11,275 Jiwa
    Lampasio                                   : 16,919 Jiwa
    Baolan                                        : 56,469 Jiwa
    Galang                                        : 26,243 Jiwa
    Tolitoli Utara                           : 15,882 Jiwa
    Dako Pemean                         : 7,135 Jiwa
    Luas Areal sekitar                  : 4,079,77 Km2
    Jumlah Penduduk
    Pria                                             : 102,165 Jiwa
    Wanita                                       : 95,889 Jiwa
    Terdiri dari 73 Desa, 5 Kelurahan dan 10 Kecamatan.
    Batas Wilayah
    - Utara                                       : Buol dan Laut Sulawesi
    - Selatan                                   : Kabupaten Donggala
    - Barat                                       : Selat Makassar
    - Timur                                     : Kabupaten Buol
    (Sumber Data:Bappeda Tolitoli)
     
c
Compose new post
j
Postingan berikutnya/Komentar berikutnya
k
Postingan sebelumnya/Komentar sebelumnya
r
Balas
e
Edit
o
Tampilkan/Sembunyikan komentar
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.